merdekanews.co
Selasa, 16 Februari 2021 - 16:00 WIB

Kabar Baik, Tol Laut  Mampu Saling Support Kebutuhan Pokok Sesama Daerah T3P

### - merdekanews.co

Tol Laut  diluncurkan perdana pada 4 November 2015. Dalam usia menginjak 6 tahun gagasan Presiden Jokowi ini mengalami pertumbuhan.

Tol Laut yang  merupakan   pelayaran liner atau langsung  multi port terjadwal  dan pelabuhan  singgah ditentukan  secara tetap ini  disubsidi  pemerintah.

Tol Laut dioperatori perusahaan pelayaran BUMN  dan perusahaan pelayaran swasta nasional. Kepada perusahaan  pelayaran  BUMN,  pemerintah memberikan penugasan. Sedangkan operator  pelayaran swasta melalui mekanisme lelang.

Trayek  Tol Laut   ditetapkan  Kementerian Perhubungan melalui  Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Tol Laut diwujudkan guna  menunjang distribusi barang dari daerah maju ke daerah terpencil, tertinggal, terdepan dan perbatasan (T3P) dalam pemerataan pembangunan,  pengembangan ekonomi dan  sebagai upaya menurunkan disparitas harga barang antara wilayah Indonesia terutama daerah T3P. 

Keberhasilan menekan disparitas harga  merupakan hasil kerjasama pemerintah pusat dengan  para  operator pelayaran BUMN maupun pelayaran swasta dengan  pemerintah daerah tujuan Tol Laut. Sehingga barang kebutuhan di daerah serta komoditi dari daerah yang memiliki nilai jual  dapat dipasarkan ke luar daerah dengan diangkut  kapal Tol Laut.

Tol Laut yang diluncurkan pemerintah bersama PELNI diawali  2 trayek, 1  kapal  berangkat dari Tanjung Priok Jakarta ke Papua dan  1 kapal dari Tanjung Perak, Surabaya ke  daerah NTB dan NTT  pada 2015.

Tol Laut terus bertambah dari 2 trayek pada 2015 menjadi 6 trayek pada  2016, menjadi   13 trayek di  2017, menjadi 18 trayek di  2018  menjadi 20 trayek pada 2019, menjadi 26 trayek  pada 2020  dan pada 2021 trayeknya  sudah  32 trayek.

Seiring bertambahnya trayek, diiringi pula dengan penambahan jumlah pelabuhan pangkal, pelabuhan singgah, jumlah  kapal,  dan pelabuhan tujuan Tol Laut. Operator yang semula hanya PELNI, bertambah 2   BUMN,  ASDP Indonesia Ferry, Djakarta Lloyd ikut terlibat. 

Terdapat pula  perusahaan pelayaran swasta nasional  diantaranya PT Luas Line, PT Temas dan PT Pelayaran Pelangi Tunggal Ika.

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut pada tahun 2021 menambah 6 trayek baru sehingga  menjadi 32 trayek. Pertambahan trayek bertambah pula jumlah pelabuhan Tol Laut menjadi  106 pelabuhan, terdiri 9 pelabuhan pangkal dan 97 pelabuhan singgah dan tujuan Tol Laut.

Hal ini sesuai Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor AL. 869/DJPL/2020.

Pelabuhan  Tanjung Perak, Surabaya, menjadi pelabuhan pangkal terbanyak kapal Tol Laut, dari Surabaya   diberangkat  15 trayek, disusul pelabuhan pangkal Tanjung Priok, Jakarta untuk melayani ke wilayah Kepulauan Riau dan  wilayah Sumatera.

Pelabuhan  Soekarno Hatta, Makassar, Pelabuhan  Kelapa Lima, Merauke-Papua Barat masing-masing menjadi pangkalan  untuk 3 trayek.

Pelabuhan Bitung dan Timika  melayani 2  trayek.

Sedangkan sisanya terdiri  Pelabuhan Teluk Bayur, Kupang, Maumere, dan Biak melayani masing-masing 1 trayek.

Dari 32 trayek  terdapat trayek dengan rute terpanjang, yaitu Trayek T-9 dari  di Tanjung Perak, Surabaya. Trayek yang dilayani KM.  Kendhaga Nusantara 9 berkapasitas 60 TEUs  ini   menempuh jarak  4.072 NM (Nautical Mile) atau sekitar 7.500 Km ditempuh selama   25 hari layar  dalam 1 voyage. Trayek ini diopertori PT Luas Line.

Adapun trayek dengan rute terpendek, trayek  T-13 dari  Kupang- Rote- Sabu- Waingapu- Kupang  dengan total jarak 419 NM atau 776 Km ditempuh selama  11 hari layar. Trayek ini  dioperatori oleh PT PELNI (Persero)  menggunakan KM Kendhaga Nusantara 11 berkapasitas 60 TEUs.

Dari  32 trayek  Tol Laut tahun 2021 terdapat  14 unit kapal milik Negara dan sisanya 18 kapal milik operator baik  BUMN maupun  operator swasta.

Sebanyak 14 unit kapal milik Negara juga dioperasikan oleh BUMN dan swasta, sehingga ada keseimbangan penugasan kepada BUMN dan keterlibatan pelayaran swasta dalam penyelenggaraan Tol Laut.

Pada 2021 Pemerintah kembali menugaskan kepada 3  BUMN  untuk menjalani  21 trayek, dengan rincian PT PELNI (Persero)  9  trayek; PT ASDP Indonesia Ferry (Persero)  7 trayek; dan PT Djakarta Lloyd (Persero)  5 trayek. Sisanya sebanyak 11 trayek  dipilih melalui mekanisme pelelangan.

Operator swasta  yang terpilih diantaranya  PT Tempuran Mas (Temas), PT Luas Line, dan PT Pelayaran Pelangi Tunggal Ika.

Dalam evaluasi Tol Laut Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut menyampaikan  perkembangan volume barang yang  diangkut melalui Tol Laut terus  meningkat.

Pada tahun 2016  terealisasi 81.404 ton dengan 4070 TEUs. Kemudian  menjadi 362.560 ton dengan 18.126 TEUs pada 2020. Terdapat peningkatan  sebesar 77 persen dalam 5 tahun.

Pertumbuhan ini dipicu bertambahnya trayek, pelabuhan pangkal, pelabuhan singgah dan jumlah kapal sehingga banyak daerah baru disinggahi kapal Tol Laut.

Kehadiran  Tol Laut memang belum mampu menyeimbangkan antara muatan  kapal  berangkat dari daerah maju  dan muatan balik dari daerah tujuan Tol Laut yang umumnya daerah T3P, sehingga masih terjadi gap  antara muatan berangkat dan muatan balik yang masih cukup  tinggi.

Dari total muatan 18.126 TEUs pada tahun 2020, volume muatan berangkat mencapai 13.825 TEUs  atau 3,2 kali lebih banyak dibanding muatan balik sebanyak 4.303 TEUs dengan gap rata-rata sebesar 69 persen.

Trayek T-15- dari Tanjung Perak – Makassar – Jailolo – Morotai – Tanjung Perak sejauh 2.607 NM dengan 17 hari layar dalam setiap voyage  merupakan trayek dengan muatan  terbanyak mencapai  2.226 TEUs, kemudian  muatan baliknya mencapai 1.239 TEUs lebih besar  muatan berangkat 987 TEUs, trayek ini dilayani diopertori PT PELNI (Persero)  dengan   KM Logistik Nusantara 03.

Trayek T-15 merupakan trayek Tol Laut dengan isian seimbang antara mutan kapal berangkat dan muatan kapal balik.
Sedangkan  Trayek T-18 dari Tanjung Perak- Badas- Bima –Tanjung  Perak dengan jarak  867 NM yang ditempuh selama 22 hari dalam 1  voyage, trayek ini melayari ke pulau-pulau kecil yang daerahnya masih  dalam masa pertumbuhan,  sehingga  muatan pada taryek ini masih  paling sedikit.

Total muatan  sepanjang tahun 2020  mencapai  471 TEUs. Trayek T-18 ini dilayani operator  PT Temas.

Sementara trayek dengan muatan  berimbang antara muatan berangkat dan muatan balik adalah trayek T-5. Perbedaan antara muatan berangkat dan muatan balik hanya hanya 3,5 persen. Trayek berjarak 670 NM ini dilayari selama 12 hari layar dalam 1 voyage,   menyinggahi pelabuhan-pelabuhan di Provinsi  Sulawesi Utara. Trayek T-5 berpangkalan  di Pelabuhan Bitung dilayani KM. Kendhaga Nusantara 01 dengan kapasitas 60 TEUs,  dioperatori  PT. PELNI (Persero).

Sepanjang tahun 2020 taryek  T-1 dan T-8 adalah dua trayek yang paling tinggi gap antara muatan berangkat dan muatan baliknya. Trayek T-1 dari Tanjung Priok-Lhokseumawe- Malahayati -Sabang-Tanjung Priok merupakan trayek baru. 

Sementara pada trayek T-8 dari Makassar -Bungku- Kolonodale- Makasar,  muatan berangkat 676 TEUs, muatan baliknya hanya 1 TEUs.

Sebagai trayek baru dalam pelayaran, wajar bila muatan masih sepi. Seperti trayek lain pada awalnya muatan balik kosong, namun seiring waktu muatan mulai terisi bahkan sudah beberapa trayek berhasil membawa muatan balik cukup banyak.

Perbedaan muatan berangkat dan muatan balik terjadi hampir diseluruh  trayek, hal ini  mengambarkan kondisi ketidakseimbangan perdagangan  antar wilayah Indonesia barat dan timur serta utara-selatan masih timpang.

Meski begitu perkembangan jumlah kapal, pelabuhan singgah dan pelabuhan tujuan  Tol Laut membuka konektivitas baru, sehingga  akan menjadi  salah satu solusi dalam membangkitkan ekonomi wilayah T3P menjadi daerah maju di masa mendatang.

Kabar baik dari perkembangan Tol Laut, baru  saja pemerintah meresmikan layanan perdana Tol Laut trayek  T-19 dari Merauke-Timika-Fakfak-Sorong- dan Pelabuhan Depapre, Jayapura  sejak   27 Januari 2021,  kapal Tol Laut mulai bersandar di Pelabuhan Depapre, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua yang sekaligus ditandai bersandarnya  KM. Logistik Nusantara II yang dioperatori PT PELNI (Persero) membawa 18 kontainer berisi beras dari Merauke.

Hadir dalam kesempatan tersebut  perwakilan Kementerian Perhubungan, PT. PELNI (Persero), Pemerintah Provinsi Papua, DPRD Papua, Bupati dan DPRD Jayapura serta tokoh masyarakat adat. Warga di lokasi sekitar pelabuhan  juga menyaksikan pertama kali kapal logistik ini bersandar.


Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Keamanan dan Kemaritiman Buyung Lelana mengatakan Tol Laut  bertujuan mempermudah distribusi logistik ke daerah-daerah terpencil, tertinggal, terluar, dan perbatasan (T3P) dengan tujuan menjamin ketersediaan barang, mengurangi disparitas harga, mempermudah pengiriman bahan pokok, barang penting, dan mengangkut  hasil industri, pertanian, perkebunan dari  daerah tujuan Tol Laut sehingga ada keseimbangan perdagangan antara daerah maju dengan  daerah T3P maupun antar daerah T3P akan tumbuh.

Hadirnya trayek T-19 dari Merauke menyisir pelabuhan-pelabuhan di sisi Barat dan Utara Pulau Papua yang berangkat dari Pelabuhan Pangkal di  Merauke yang juga termasuk daerah T3P penghasil beras terbesar di Indonesia Timur ini menandakan Tol Laut mampu membukan konektivitas antar wilayah. Trayek T-19  mendistribusikan  hasil pertanian untuk mensuplai kebutuhan beras di daerah Timika, Fakfak, Sorong, hingga Jayapura.
Trayek T-19 juga akan memuat hasil perkebunan dari daerah Jayapura untuk didistribusikan ke daerah Sorong, Timika dan Merauke. 

Dengan demikian ada keseimbangan perdagangan antara daerah T3P dalam trayek T-19. Para kepala di daerah T3P dapat saling bertukar informasi ketersediaan dan kebutuhan barang dan minta disuplai barang yang dibutuhkan dan menawarkan ketersediaan barang di daerah T3P.

Dengan demikian Tol Laut tidak hanya memberikan suplai bahan pokok dan barang penting dari daerah maju ke daerah T3P, namun barang kebutuhan pokok seperti beras dapat pula disuplai  dari daerah Merakau yang masuk kategori daerah terdepan dan perbatasan.

Tol Laut menjadi solusi membuka isolasi, membuka pasar  baru bagi  produk-produk daerah untuk dipasarkan ke daerah yang membutuhkan di sesama daerah T3P.
Secara bertahap Tol Laut membuahkan hasil, memberikan nilai ekonomi yang pada awalnya disubsidi ke depan secara berangsur-angsur akan menjadi kapal komersial tanpa subsidi,  bila layanan kapal sudah memiliki nilai komersial yang tinggi.

Daerah tujuan Tol Laut yang saat ini masih tertinggal secara bertahap  akan menjadi daerah maju. Sehingga ke depan  subsidi Tol Laut pada rute-rute tertentu secara bertahap dapat dikurangi dan bahkan dihilangkan karena sudah layak dilayari kapal komersial.


Semoga. 

(###)





  • Angkutan Kereta Api Perkotaan Indonesia Angkutan Kereta Api Perkotaan Indonesia Perjalanan terwujudnya angkutan kereta api perkotaan saat ini dengan hadirnya Moda Raya Terpadu (MRT) dari Hotel Indonesia-Lebak Bulus, Light Rail Transit (LRT) DKI Jakarta dari Kelapa Gading-Velodrom Rawamangun,  LRT Jabotabek Cawang-Bekasi Timur dan Dukuh Atas-Cawang-Cibubur  serta kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek tak dapat terlepas dari upaya Belanda yang membidani angkutan perkotaan kereta api  dengan  jaringan kereta rel listrik atau eletrifikasi dari Tanjung Priok-Mester Cornelis (Jatinegara).