merdekanews.co
Jumat, 19 Juli 2019 - 11:54 WIB

Oleh : Sean Choir, Direktur Eksekutif ICDHRE (Bagian IV)

Penyesalan Selalu Hadir Di Belakang

### - merdekanews.co

Tragedi kemanusiaan Srebrenica di Bosnia- Herzegovina tahun 1995 tidak hanya mengakibatkan porak-porandanya bangunan, tapi juga meninggalkan traumatik-syikis yang mendalam serta menimbulkan dendam politik yang berkepanjangan. Hingga kini, meski peristiwa itu telah berlangsung 24 tahun yang lalu, tapi dendam politik itu belum sepenuhnya pulih.

Saat kami berkunjung ke Interreligious Council Bosnia-Herzegovina ( ICBH), sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak di bidang dialog antar agama, luka mendalam yang dialami bangsa Bosnia-Herzegovina itu dapat menemukan konfirmasinya. Dengan gestur dan mimik yang nampak hati-hati dan berat, Igor Kozemjakin ( ICBH) bercerita bahwa kalau boleh memutar arah jarum jam, maka kami bangsa Bosnia-Herzegovina akan berusaha sekuat-kuatnya agar peristiwa perang saudara di Srebrenica 24 tahun yang lalu itu tidak terjadi.

"Dalam rangka menyembuhkan luka-politik yang dalam dan mencegah agar peristiwa serupa tidak pernah terjadi lagi, kini kami berupaya terus menerus melakukan banyak kegiatan bersama yang diikuti para pemuda lintas agama", tambah Igor. Hal yang kurang lebih sama dinyatakan perwakilan ICBH lainnya, seperti Melika Arifhodzic, Olivera Jovanovic dan I helena Mortinovic.

"Kami berusaha agar generasi muda Bosnia-Herzegovina melupakan masa lalu yang buram dari sejarah bangsanya dan bersama-sama menatap masa depan yang lebih baik. Meski kami akui hal ini tidaklah muda", tegas Melika.



Saat kami menyusuri kota Sarajevo, banyak gedung-gedung yang dibiarkan rusak dan tidak dibangun lagi. Bahkan lubang-lubang bekas tembakan dan lemparan granat di beberapa gedung masih dibiarkan begitu saja seolah dijadikan saksi bisu dari peristiwa yang memilukan rakyat Bosnia-Herzegovina ini.

"Sampai saat ini pun pihak berwenang di Bosnia-Herzegovina masih sulit mencipta pemerintahan yang stabil atas dasar konstitusi negara. Pemerintahan tiap 8 bulan berganti sehingga sulit melaksanakan pembangunan dengan baik dan terencana dengan matang", kata Palestin, warga Bosnia yang kebetulan berasal dari Indonesia.

"Dampak buruk dari perang saudara ini juga dirasakan oleh generasi muda Bosnia hingga kini. Pengangguran dimana-dimana karena minimnya investasi dan pembangunan di Bosnia. Investor takut menanamkan modalnya karena tiadanya jaminan akan stabilitas politik dan keamanan. Jadi generasi muda Bosnia kini banyak yang lari ke Jerman, Italia dan negara Eropa lainnya untuk mencarin pekerjaan", tambah Palestin.

Menutup ulasannya, Palestin menitip pesan kepada saudara sebangsanya di Indonesia, apa yang terjadi Srebrenica Bosnia tidak boleh terjadi Indonesia. Karena dampaknya sangatlah buruk bagi peradaban kemanusiaan dan kebangsaan kita. Untuk itu, mempertahankan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai ideologi dan pemersatu tetap tersus digelorakan dan diupayakan.

Menutup diskusi, kami pun sepaham bahwa sayangnya penyesalan selalu hadir di belakang.

(###)





  • Beragama Itu Memuliakan Bukan Saling Melenyapkan Beragama Itu Memuliakan Bukan Saling Melenyapkan Terlepas dari spekulasi politik bahwa peristiwa genocida di Srebernica 1995 dapat dikategori sebagai perang agama atau tidak, tapi monumen Srebrenica 1995 sesungguhnya menggugat kesadaran spiritualitas kemanusiaan dan kebangsaan kita.