merdekanews.co
Selasa, 30 Juli 2019 - 13:25 WIB

Oleh : Sean Choir, Direktur Eksekutif ICDHRE

WASPADALAH! Radikalisme Telah Menusuk Jantung Pertahanan NKRI

*** - merdekanews.co

Dalam banyak studi dipaparkan, radikalisme dapat mewujud ke dalam 3 bentuk: pemikiran diskursif, sikap intoleran terhadap kelompok berbeda, tindakan teror atau kekerasan.

Dalam bentuk pemikiran diskursif atau radikal, menarik dicermati temuan dari beberapa lembaga yang berkompeten. BNPT di tahun 2017 merilis hasil penelitiannya dengan temuan: 39% mahasiswa dari sejumlah PT terpapar radikalisme. 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA setuju dengan jihad demi tegaknya Negara Khilafah.

Kurang lebih sama dengan BNPT, di tahun 2018 Alvara Researh Center (ARC) menemukan sebagian milenial atau generasi yang lahir di tahun 80-90 an, setuju konsep khilafah sebagai bentuk negara. Dari 4200 responden mileneal yang terdiri dari 1800 mahasiswa dan 2400 pelajar SMA se Indonesia,  ada 17,8% mahasiswa dan 18,4% pelajar yang setuju "khilafah" sebagai bentuk negara ideal sebuah negara. Selaras dengan temuan BNPT dan ARC, Kementrian Pertahanan RI juga telah merilis hasil siginya: sekitar 3% anggota TNI telah terpapar radikalisme. 

Haruslah dipahami, sepertinya kelompok radikalis tahu benar bagaimana cara mempercepat lumpuhnya ideologi Pancasila dan NKRI. Maka target strategis yang dibidik adalah kaum pelajar, mahasiswa dan  anggota TNI. Karena pelajar, mahasiswa dan anggota TNI  adalah jantung pertahanan atas tegaknya ideologi bangsa Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dimasa kini dan masa depan. 

Mesti diingat jatuh-bangunnya negeri di timur tengah seperti di Mesir dan Sudan, dimulai dari masifnya gerakan perubahan radikal atas nama agama oleh pelajar dan mahasiswa, saat yang sama kemudian didukung oleh tentara nasional mereka.

Kini jantung pertahanan itu telah dan sedang mereka garap serius di Indonesia, melalui upaya yang sistematis dan terukur di sekolah dan kampus-kampus sejak reformasi bergulir 21 tahun lalu. Upaya sistematis itu diperkuat dengan menebarkan konten "eksklusivisme-beragama" dan monopoli kebenaran melalui   serangan masif di media sosial. Hasanuddin Ali, CEO Alvara, dalam temuannya menegaskan  bahwa konservatisme dan radikalisme di kalangan mileneal tak lepas dari konsumsi internet yang sangat tinggi dari usia yang lahir di era 90-an awal ini.

Adriana Elisabeth, LIPI,  mengemukakan bahwa setidaknya ada 4 alasan mengapa radikalisme bisa tumbuh dan berkembang di Indonesia:
1) kepentingan personal, bisa menyangkut urusan ideologi dan finansial. Radikalisme itu bisa menyebar luas dengan janji-janji 'jihad-illahi dan  kecukupan kebutuhan finansial tiap hari; 2) propaganda politik melalui fasilitas pelatihan dan transportasi bisa menjadi akadan seseorang bergabung dengan kelompok radikal; 3)Etika elit-politik yang buruk. publik menjadi apatis terhadap demokrasi dan menjadikan radikalisme sebagai jalan alternatif; 4) pemahaman soal penyucian diri akan dosa melalui "aksi-hijrah" , juga bisa menjadi alasan kuat seseorang yang masuk ke dalam lingkaran setan radikalisme.

MENUNGGU UPAYA TEGAS

Tanpa menegasikan berbagai upaya BNPT dan pihak terkait yang berwenang seperti yang selama ini dilakukan, dalam hemat saya berbagai upaya tersebut  belumlah berhasil secara signifikan. Hal ini dibuktikan masih bimbangnya negara untuk mengambil tindakan tegas terhadap kelompok yang secara terang-terangan melakukan gerakan anti Pancasila. Saat yang sama, upaya penguatan ideologi dasar negara Pancasila juga belum nampak sebagai gerakan nasional yang doktrinal yang sistemik di sekolah dan kampus-kampus.

Benar, ada organisasi pengusung khilafah dan  secara organisatoris telah dibubarkan, tapi militansi kadernya yang jutaan itu sesungguhnya masih eksis bahkan terus bergerak dengan strategi yang berubah dan berbeda tanpa bisa dilakukan upaya paksa dengan alasan pengganggu ideologi dan keamanan negara. Meski berbagai upaya deradikalisasi  terus berjalan, tapi hanya menyentuh mereka yang telah nyata melakukan tindakan teror bom. Tidak untuk mereka yang pikirannya telah terpapar.

Berbeda dengan negara tetangga di Malaysia dan Thailand, tanpa kompromi para radikalis disana ditangkap dan dipenjarakan oleh puhak keamananan setempat sesuai dengan hukum yang berlaku. Tidak hanya bagi mereka yang telah melakukan tindakan teror, tapi juga bagi warga negara yang telah dan sedang terpapar radikalisme.

Jadi berbagai upaya dimaksud oleh lembaga berwenang masih berlangsung dengan setengah hati dan karenanya rakyat menunggu upaya tegas negara. Jika tidak, lonceng kematian NKRI tinggal nunggu waktu saja seiiring dengan menguatkanya pengikut setia radikalisme dan negarawan di bumi damai Pancasila ini. (***)






  • Penyesalan Selalu Hadir Di Belakang Penyesalan Selalu Hadir Di Belakang Tragedi kemanusiaan Srebrenica di Bosnia- Herzegovina tahun 1995 tidak hanya mengakibatkan porak-porandanya bangunan, tapi juga meninggalkan traumatik-syikis yang mendalam serta menimbulkan dendam politik yang berkepanjangan.


  • Beragama Itu Memuliakan Bukan Saling Melenyapkan Beragama Itu Memuliakan Bukan Saling Melenyapkan Terlepas dari spekulasi politik bahwa peristiwa genocida di Srebernica 1995 dapat dikategori sebagai perang agama atau tidak, tapi monumen Srebrenica 1995 sesungguhnya menggugat kesadaran spiritualitas kemanusiaan dan kebangsaan kita.