merdekanews.co
Senin, 17 Juni 2019 - 21:12 WIB

Pendukung PPP di Bogor Hengkang, Monopoli Politik RY Digugat

Setyaki Purnomo - merdekanews.co
Rachmat Yasin dan Dinasti Politik PPP

Bogor, MERDEKANEWS - Perolehan suara PPP dalam Pemilu Legislatif (Pileg) dan dan Pemilihan Presiden 2019, babak belur. Hal ini diduga akibat monopoli kepemimpinan Rachmat Yasin (RY), merusak suara partai.

Hal ini mengemuka saat berbincang santai dengan kader senior PPP di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, H Bono, Senin (17/6/2019). "Ini fakta. Pada Pileg dan Pilpres 2019 ini, suara PPP hancur lebur. Dan yang memonopoli PPP di Kabupaten Bogor khususnya dan Jawa Barat adalah trah RY (Rachmat Yasin)," ucap Bono.

Dalam diskusi membahas melorotnya perolehan suara PPP di Jawa Barat dan Kota/Kabupaten Bogor itu, Bono mengatakan, suara partai berlambang ka'bah pada Pemilu 2019, sangat memprihatinkan.

"Bagaimana tidak memprihatinkan, pada Pileg 2019 ini, untuk DPRD Provinsi Jawa Barat, PPP hanya dapat 3 kursi, dari sebelumnya 9 kursi. Di Kabupaten Bogor pun sama turun dari 7 kursi pada Pileg 2014, PPP sekarang hanya mendapat 6 kursi di 2019. Untuk DPR RI, PPP juga terjun bebas dari 7 kursi di 2014, sekarang 2019 hanya dapat 3 kursi dan semua suara yang didapat tidak full (penuh). Sedangkan, di Kota Bogor, kursi PPP stagnan hanya di 5 kursi," paparnya.

Ia pun menuding Bupati Bogor yang juga Ketua DPW PPP Jawa Barat, Ade Munawaroh Yasin (Ade Yasin) gagal memimpin partai. Dan, lanjutnya, Ade Yasin harus bertanggung jawab atas terjun bebasnya suara PPP di bumi Pasundan dan Kabupaten Bogor.

"Termasuk Ketua DPC PPP Bogor, Elly Halimah Yasin (Elly Yasin). Mereka ini, RY, Ade Yasin, Elly Yasin kan memonopoli kepengurusan kepemimpinan PPP di Kabupaten Bogor dan Jawa Barat. Jadi, PPP ini seperti kena sial saat dipimpin trah RY karena suaranya bukannya naik malah turun," kritiknya.

Jokowi-Maruf Keok di Bogor
Tak hanya suara PPP yang apes di Pileg 2019, Pasangan capres dan cawapres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, kena imbasnya. Dukungan keduanya tak signifikan di Kota Bogor dan Jawa Barat. "Rumor yang saya dengar, dia (Ade Yasin) minta cepat-cepat dilantik jadi bupati karena yakin akan bisa menyumbang kemenangan 60 persen suara untuk Jokowi. Faktanya di Kabupaten Bogor, suara Jokowi-Ma'ruf Amin tidak sampai 30 persen. Hanya sekitar 29 persen. Kalah telak dari Prabowo-Sandi," urainya.

Kondisi PPP yang tidak baik, ternyata membawa dampak buruk terhadap kader senior. Mereka jadi tidak nyaman dan akhirnya banyak yang pindah ke partai lain. "Banyak elit partai PPP di Jawa Barat yang pindah partai seperti Hasan Zaenal, Tatang dan lain-lain. Ini akibat pimpinan partai gagal mengelola PPP Jawa Barat dan Kabupaten Bogor. Kader jadi tidak nyaman dan pindah partai," cetusnya.

Bono pun membeberkan dinasti politik PPP di Kota Bogor yang berhasil dibangun Rachmat Yasin (RY). "Semua pimpinan kepengurusan PPP dikuasai trah RY. Lihat, RY turun dari bupati dan ketua DPW PPP Bogor sekarang adiknya yang gantiin Ade Yasin sebagai bupati Bogor dan ketua DPW PPP. Istri RY, Elly Yasin jadi ketua DPC PPP," papar Bono.

"Dulu waktu Pilwakot Bogor, adik RY, Zaenul Muttaqin maju juga. Belum kerabat yang lain. Ini harus dihentikan. Menguasai partai apakah untuk memperkaya diri atau membesarkan partai. Dan apakah keluarga RY ini cukup kaya sehingga memborong Pilkada?" tanyanya.

  (Setyaki Purnomo)






  • Di Sukabumi, Prabowo-Sandi Terlalu Tangguh  Di Sukabumi, Prabowo-Sandi Terlalu Tangguh Ternyata, Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu basis pendukung militan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno di Jawa Barat. Perolehan suara pasangan nomor urut 02 ini mampu menjungkalkan pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin.