merdekanews.co
Minggu, 07 April 2024 - 22:10 WIB

Belajar dari Jamaah Aolia Rayakan Lebaran Usai Telepon Allah SWT: Beragama Gunakan Ilmu dan Akal Sehat

Jyg - merdekanews.co
Jamaah Aolia Gunungkidul, Yogyakarta, laksanakan Sholat Iedul Fitri 1445 Hijriyah. (Foto: istimewa)

Jakarta, MERDEKANEWS -- Pimpinan Jamaah Aolia Gunungkidul, Yogyakarta, Kyai Haji Raden Ibnu Hajar Sholeh Pranolo alias Mbah Benu ngaku sudah telepon Allah SWT untuk bisa salat Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriyah.

Diketahui, ratusan jamaah Aolia di Dusun Panggang III, Giriaharjo, Kabupaten Gunungkidul, sudah melaksanakan salat Idul Fitri pada Jumat, 5 April 2024. Setidaknya ada 190 jamaah Aolia sudah berbuka, menyantap berbagai jenis hidangan khas Lebaran.

Perayaan Idul Fitri diawali dengan salat Ied yang dipimpin Mbah Benu. Usai melaksanakan salat, Mbah Benu pun membeberkan alasannya untuk menggelar salat Ied lebih dulu.

Padahal jika merujuk penanggalan hisab dan rukyat Kementerian Agama, Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1445 Hijriah berpotensi jatuh pada 10 April 2024. Jika demikian, maka Lebaran secara nasional akan berbarengan dengan jamaah Muhammadiyah.

Namun Mbah Benu mengatakan dirinya sudah telepon Allah SWT atau meminta izin agar bisa Lebaran 5 hari lebih cepat. "Saya tidak pakai perhitungan. Saya telpon langsung kepada Allah Taala," kata Mbah Benu.

Melalui sambungan telepon, Mbah Benu klaim mendapat menjawaban Allah bahwa 1 Syawal jatuh pada tanggal 5 April 2024. "Ya Allah, sudah tanggal 29 (bulan Ramadan), 1 Syawal-nya kapan?' Allah Taala bercerita, tanggal 5 (April 2024)," terangnya.

Pengakuan Mbah Benu beredar luas di media sosial dan sontak menuai perbincangan hangat. Mbah Benu menegaskan tak ambil pusing dengan cemooh publik terhadap dirinya dan jamaah Aolia Gunungkidul.

Pernyataan Mbah Benu dinilai melenceng dari syariat Islam. Pasalnya yang hanya bisa berkomunikasi dengan Tuhan sejatinya hanya seorang Nabi dan Rasul.

Publik menilai pengakuan Mbah Benu seolah dirinya orang terpilih sehingga bisa mendapatkan ilham. "Kok ya banyak yang percaya, mana sekampung lagi," tutur seorang warganet. "Istighfar mbah," timpal seorang warganet.

"Kirain pakai perhitungan apa, ternyata langsung telepon ke pusat. Wow," cetus seorang warganet. "Unik-unik ya orang Indonesia. Banyak yang halu, ya Allah. Nyebut mbah," kata seorang warganet.

Menanggapi soal itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur berharap semua umat Islam khususnya tokoh agama harus beribadah sesuai ajaran agama Islam yang benar, menggunakan ilmu, dan akal sehat.

"Tidak boleh mempermainkan ajaran agama Islam termasuk berdalih telah berbicara langsung dengan Allah swt," kata Gus Fahrur dikutip dari NU Online.

Menurut Gus Fahrur, seseorang tidak bisa secara asal-asalan mengaku sudah berkomunikasi langsung dengan Gusti Allah. "Pengakuan semacam itu tidak sah dan tidak boleh dijadikan dasar tuntunan agama," tegasnya.

Ibadah dalam Islam, lanjutnya, harus sesuai tuntunan syariat yang dipahami dengan ilmu-ilmu standar ajaran agama Islam yang sudah jelas dalil-dalilnya dan garis-garisnya.

"Kepada saudara kita masyarakat Muslim di Panggang, Gunung Kidul, diimbau untuk mengambil tuntunan agama Islam dari para ulama yang dapat menjelaskan dan mempertanggungjawabkan ajaran Islam sesuai metode syariat Islam yang sah," ucap Gus Fahrur.

Ia mewanti-wanti, agar masyarakat tidak terkecoh oleh keanehan atau kesaktian individu. Karena menurutnya, orang yang dapat menghadirkan hal-hal ajaib sekalipun tidak berarti dia memiliki keistimewaan di hadapan Allah swt. Karena, menurut Gus Fahrur, tukang sulap dan tukang sihir juga bisa melakukannya.


"Benar dan salah seseorang dalam ajaran agama Islam hanya boleh diukur dengan ketentuan-ketentuan syariat sesuai tuntunan Al-Qur'an, hadits, qiyas, dan ijma' para ulama," tandas Gus Fahrur.

(Jyg)