merdekanews.co
Selasa, 12 Maret 2019 - 05:00 WIB

Oleh: Dahlan Iskan

Musim Dangkal

*** - merdekanews.co

Musim durian tiba. Yang menyengat tidak hanya aroma. Tapi juga suasana.

Durian kulitnya tajam. Demikian juga lidah manusia. Khususnya di musim hati didudukkan di kursi. Ketika yang dibicarakan hanya kulit-kulitnya. Tapi menusuk sampai dagingnya. Hanya permukaannya. Tapi membekas sampai sanubarinya.

Ketika jarak pandang sangat dekat. Suluk masa depan terselimut kabut. 

Inilah musim yang membuat orang seperti Kyai Yusuf tidak mendapat angin. Ketika filsafat tidak dapat tempat. Ketika sufi dianggap sepi.

Siapa yang masih laku untuk bicara esensi. Ketika retorika lebih mengungguli.
Di manalagi kita bisa bertanya: mengapa posisi Tuhan lebih dekat dari tubuh diri manusia.  Bahkan dari urat lehernya.

Di mana sebenarnya Tuhan. Terutama ketika Raja Arab membuka pintu ”bait Allah”. Dan mendapatkan di dalamnya ruang yang kosong.

Di manakah gerangan qalbu. Di saat semua orang hanya bersilat lidah.
Perlukah masa lalu diingat-ingat. Dan masa depan dipercepat. Kalau tidak ada yang fokus untuk jati diri masa kini.

Padahal, padahal, padahal.

Adakah agama yang tidak memperbincangkan ketinggian? Yang tidak mengajarkan cara memanjat ketinggian?

Tapi, tapi, tapi.

Mengapa hati bisa lebih tinggi dari Pagoda di atas tebing. Dari menara masjid yang menuding langit. Dari lonceng gereja di puncak menara.

Di manakah lagi panggung diskusi tentang pencucian hati. Ketika semua trotoar dipenuhi slogan kedudukan.

Siapakah lagi yang masih mengajarkan tata-cara membersihkan hati. Ketika semua debu dilumurkan ke qalbu. Dan hati yang berdebu dianggap sama sexy-nya dengan kelepon berbalut kelapa parut.

Di manakah ruang diskusi jalan menemukanTuhan. Ketika semua jalan kebanjiran uang untuk mencari kursi.

Sungai sudah kehilangan kedungnya yang dalam.Yang tersisa hanyalah dasarnya yang kian dangkal.

Tidak ada lagi semedi.

Tidak ada mawas diri.

Tidak ada tempat untuk para sufi.

Inilah musim hati kemrungsung.

Dada membusung.

Perut melembung. 

Tenggorokan melengkung. 

Ludah menjadi gelembung-gelembung. Penuh racun.

Kemana Toto Asmara. Setelah lama meninggal dunia.

Zikir sudah minggir.

Pun, pun, pun.

Bersyahabat sudah dianggap sama dengan mengucapkan syahadat.

Bait Allah disamakan dengan bangunan berkubah.

Tidak ada lagi diskusi puisi.

Ketika puisi juga dicabut dari esensi.

Ketika semua dahan dipaku untuk slogan.

Inilah sungai dangkal.

Dengan dewa sekelas Narada.

Dengan area sosial media.

Esensi dijauhi.

Rating dikejar. 

Hati diperdagangkan.  (***)






  • Dahlan Iskan: Tasawuf Vatikan Dahlan Iskan: Tasawuf Vatikan Sudah lama saya ingin ketemu sufi satu ini. Tapi harus menelusuri dulu jejaknya. Ialah satu-satunya lulusan Gontor yang mendapat beasiswa langsung dari Paus Benedictus XVI. Bahkan satu-satunya orang Islam di Indonesia. Pun Asia Tenggara.


  • Dahlan Iskan: Debat M&S Dahlan Iskan: Debat M&S Jantung saya deg-degan. Saat debat cawapres memasuki babak sepertiga terakhir. Tiba-tiba gawang Liverpool kebobolan. Saat lawan Fulham kemarin malam. Di menit ke 74. Kok bisa. Begitu cerobohnya. Menjadi 1-1.


  • Dahlan Iskan: Berlusconi Dahlan Iskan: Berlusconi Penari perut itu sakit perut. Lalu dibawa ke rumah sakit. Meninggal dunia tanggal 1 Maret lalu. Selama sebulan perawatan tidak ditemukan penyakit apa pun.


  • Debat Debat Menarikkah debat calon wakil presiden nanti malam? Kalau topik debatnya bisa diubah tentu kejadian di Selandia Baru lebih aktual. Juga sangat mendasar.


  • Independen Independen Saya ke Solo Kamis lalu. Berhadapan dengan milenial Islam.