merdekanews.co
Jumat, 08 Desember 2017 - 23:59 WIB

Anies Tetapkan Difteri KLB

Virus Batuk Mematikan Meluas, Tangerang Bikin Susah Jakarta

K Basysyar A - merdekanews.co

Jakarta, MERDEKANEWS – Difteri terus meluas. Virus batuk mematikan itu kini mulai menyerang para balita.

Pemprov DKI Jakarta menetapkan difteri sebagai kejadian luar biasa (KLB). Jumlah kasus difteri di Jakarta tahun ini meningkat menjadi 25 kasus. Tahun sebelumnya hanya 17 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta, Kusmedi Priharto menyatakan, saat ini sudah ditetapkan Kondisi Luar Biasa (KLB).

“Keputusan status KLB diambil jika temuan kasus meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Kendati temuan difteri belum mencapai dua kali lipat dibanding 2016, pihaknya menetapkan sebagai KLB sebagai upaya proteksi agar tak semakin banyak warga yang tertular penyakit ini,” ungkapnya saat jumpa pers di Balai Kota, Jumat (8/12/2017).

Dari hasil pemeriksaan korban ternyata sumber penyakit itu berasal dari Tangerang, Banten. Artinya penyebaran virus tersebut dari warga Tangerang. Jarak Tangerang-Jakarta sangat dekat sehingga perlu ada proteksi lebih lanjut dari pemerintah agar penyakit ini tak meluas.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan penetapan KLB juga dilakukan karena daerah terdekat dengan DKI itu menjadi sumber penyebaran penyakit ini.

"Batasan Jakarta dan Tangerang itu di peta kelihatan. Tapi di dalam keseharian warga berinteraksi. Jadi kita putuskan untuk melakukan tindakan preventif," jelasnya.

Saat ini ada delapan pasien difteri yang sedang dirawat di RS Sulianti Saroso. Anies berharap pasien ini dapat tertangani dengan baik.

Pemprov DKI, kata Anies, juga berencana akan melakukan vaksinasi mulai Senin (11/12). Vaksinasi dilakukan berdasar hasil koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan akan dilakukan di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Untuk vaksinasi ini disiapkan 1,2 juta vaksin yang akan dikhususkan untuk warga usia 2-19 tahun. Setelah melakukan assesment pihaknya sepakat melaksanakan vaksinasi di semua wilayah di Jakarta.

"Kita akan masuk di semua channel termasuk sekolah melalui lingkungan dan bahkan di tempat-tempat umum seperti mal dan balai-balai pertemuan lain akan dilakukan sehingga mencakup semua populasi. Karena difteri ini penularannya sangat mudah dan cepat sekali," paparnya.

Vaksin 70 Miliar

Untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit ini, Pemprov DKI Jakarta akan melakukan vaksinasi ORI (Outbreak Respond Imunisation).

Awalnya ORI akan dilaksanakan hanya di dua wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara dengan bantuan 1,2 juta vaksin dari Kementerian Kesehatan.

Namun Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan vaksin dilakukan di semua wilayah DKI Jakarta. Untuk itu, Anies mengatakan pihaknya membutuhkan dana sebesar Rp 70 miliar untuk membeli vaksin.

"Diproyeksikan sekitar Rp 70 miliar untuk vaksin tambahan," sebutnya saat jumpa pers di Balai Kota, Jumat (8/12).

Diketahui, Kemenkes memberikan 1,2 juta vaksin padahal kebutuhan di Jakarta sekitar 2,9 juta vaksin. “Sisanya kita beli sendiri dan carikan dananya karena ini sangat penting untuk bisa mendapatkan vaksin," lanjut Anies.

Imunisasi vaksin difteri ini sangat mendesak untuk dilakukan. Menurutnya vaksinasi difteri berbeda dengan yang lain karena jika ini dibiarkan bisa berdampak fatal.

"Ini agak berbeda dengan jenis-jenis penyakit lain yang dianggap enteng. Ini enggak bisa dianggap enteng," ujarnya.

Anies mengimbau kepada warga jika mengalami gejala flu jangan diangggap enteng. Ia meminta agar segera melakukan pemeriksaan ke dokter atau Puskesmas untuk memastikan apakah itu difteri atau bukan.

"Kalau kita temukan orang dengan gejala yang sama belum periksa maka dorong supaya periksa. Jangan dibiarkan. Kalau kita biarkan orang dengan gejala difteri tetap di lingkungan itu tanpa diperiksa maka risikonya menjadi meluas kepada keluarga dan lingkungannya," imbaunya

 

  (K Basysyar A)






  • Ketua JIC Baru Harus Mampu Merangkul Semua Pihak  Ketua JIC Baru Harus Mampu Merangkul Semua Pihak  MERDEKANEWS - Sosok ketua Jakarta Islamic Centre (JIC) ke depan harus figur yang mampu merangkul semua pihak. Sang ketua juga harus punya inovasi agar JIC menjadi pusat atau episentrum peradaban Islam diseluruh dunia.