merdekanews.co
Minggu, 30 September 2018 - 01:35 WIB

Sidang PBB

Salut, Mahathir Mohamad Tuding Myanmar Bantai Muslim Rohingya

Sam Hamdan - merdekanews.co
Mahathir Mohamad (tengah).

New York, MERDEKANEWS - Aksi brutal militer Myanmar terhadap muslim Rohingnya menjadi sorotan. Di hadapan pemimpin dunia, Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad berani kalau aksi itu adalah pembantaian.

Dalam pidatonya di Sidang Ke-73 Majelis Umum PBB, Mahatir mengecam tindakan militer Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya yang dia sebut pembantaian.

Mahathir juga mengkritik gejolak politik, ekonomi, dan sosial yang semakin meningkat di seluruh dunia.

Dalam krisis Rohingya, pemimpin Malaysia ini menuduh seluruh dunia sudah gagal bertindak.

"Bangsa-bangsa adalah independen, tetapi apakah ini berarti bahwa mereka memiliki hak untuk membantai rakyat mereka sendiri?," kata Mahathir mengacu pada krisis Rohingya dalam pidatonya hari Jumat waktu New York.

"Pmerintah harus mengambil langkah nyata ke depan, dengan jelas menunjukkan komitmen untuk segera melakukan perubahan di lapangan," katanya mengacu pada Myanmar, seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu (29/9/2018).

Dalam pidatonya, Mueller mengatakan Rohingya sekarang sebagai "populasi tanpa negara terbesar di dunia".

Dia mendesak para donor untuk menanggapi krisis pengungsi. Mueller juga mendesak pemerintah Myanmar untuk membongkar fasilitas terpisah bagi sekitar 600.000 orang Rohingya yang tinggal di Myanmar dan mengakhiri marjinalisasi dan kondisi menyedihkan yang banyak dipaksa untuk hidup.     (Sam Hamdan)


  • Catatan Jamran di 20 Tahun Milad PBB dan Tes Kejiwaan Catatan Jamran di 20 Tahun Milad PBB dan Tes Kejiwaan 20 tahun lalu saat hiruk pikuknya Reformasi 1998, pada tanggal 17 Juli 1998 lahirlah sebuah partai politik yang bernafaskan islam. Para ulama, ustadz, cendikiawan dan aktivis Islam hingga tokoh-tokoh masyumi yang menjadi cikal bakal berdirinya partai sepakat memberi nama Partai Bulan Bintang (PBB).