merdekanews.co
Selasa, 01 Juni 2021 - 16:02 WIB

Songsong Indonesia Emas 2045, KBRI Tokyo dan PPI Jepang Gelar Webinar Nasional

Deka - merdekanews.co
Pembukaan oleh Duta Besar LBBP RI untuk Jepang, Heri Akhmadi, didampingi oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Yusli Wardiatno dan Atase Pertahanan Edwardus Wisoko

Tokyo, MERDEKANEWS -- Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo (KBRI Tokyo) bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI Jepang) melaksanakan webinar nasional dengan tema “Akselerasi Pembangunan Pendidikan Tinggi Nasional dalam Mempersiapkan Pemimpin di Era Indonesia Emas 2045”, pada Jumat (21/5).

Tujuan diadakannya webinar ini adalah untuk membahas berbagai upaya strategis untuk mengakselerasi pembangunan pendidikan tinggi guna mempersiapkan pemimpin di era Indonesia Emas 2045.

Acara yang sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei ini dihadiri oleh enam narasumber, yaitu Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI), Nizam; Ketua Forum Rektor Indonesia, Arif Satria; Dekan FIK Universitas Indonesia (UI) dan mantan aktivis mahasiswa UI, Agus Setiawan selaku; Gubernur Akademi Militer Republik Indonesia, Mayor Jenderal TNI Candra Wijaya; Peneliti Sejarah Indonesia-Jepang, Meta Sekar Puji Astuti; serta Deputi Sumber Daya Manusia Kemenpan-RB, Alex Denni.

Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai kota di seluruh dunia dan dilakukan secara daring. Kegiatan ini pun dibuka secara resmi oleh Duta Besar LBBP RI untuk Jepang, Heri Akhmadi, didampingi oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Yusli Wardiatno dan Atase Pertahanan Edwardus Wisoko. KBRI Tokyo yakin bahwa pendidikan dengan kualitas terbaik akan menjamin tercapainya harapan bangsa Indonesia yakni Indonesia Emas di tahun 2045.

“Itulah karenanya, hari ini KBRI Tokyo bekerja sama dengan PPI Jepang mengundang beberapa pemangku kepentingan pada sektor Pendidikan termasuk Ditjen Ristek-Dikti, Akademi Militer, dan Forum Rektor Indonesia untuk mendiskusikan bersama bagaimana lembaga pendidikan mempersiapkan pemimpin masa depan,” tutur Heri dalam sambutan pembukaan di webinar nasional yang terbagi menjadi dua sesi tersebut.

Pada sesi pertama, para narasumber memfokuskan pemaparannya pada strategi pemerintah, kelembagaan perguruan tinggi, dan kemahasiswaan. Dirjen Dikti, Nizam, menyampaikan bahwa pemerintah dalam hal ini Kemendikbudristek telah mencanangkan Merdeka Belajar bagi mahasiswa perguruan tinggi yang memberikan fleksibilitas pembelajaran. Pembelajaran dapat dilakukan di tengah-tengah masyarakat seperti perusahaan, desa-desa, bahkan komunitas.

“Hasil dari pembelajaran tersebut diakui sebagai kredit perkuliahan bagi mahasiswa yang bersangkutan. Merdeka belajar diharapkan dapat menyambung rantai yang putus antara perguruan tinggi dengan pelaku industri yang ujungnya akan meningkatkan kapasitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia,” ujar Nizam.

Sementara itu, Agus Setiawan yang merupakan mantan aktivis 1998, berbicara tentang tren pergerakan mahasiswa dewasa ini. Paradigma pergerakan mahasiswa menurutnya sudah sangat berubah. Apabila dahulu mahasiswa berperan dalam mempersiapkan kemerdekaan pada tahun 1945, kemudian pergerakan politik pada tahun 1966 dan 1998. Namun saat ini, mahasiswa harus transformatif dan adaptif untuk menjadi agent of change dan penjaga aspek sosial dan politik di masyarakat.

“Tidak lupa, bahwa kecepatan dalam melakukan perubahan pun harus menjadi lebih cepat dari sebelumnya karena tingkat percepatan yang sangat tinggi,” jelas Agus.

Kesempatan selanjutnya diberikan kepada Ketua Forum Rektor Indonesia, Arif Satria yang menyampaikan bahwa metode pengajaran harus diikuti dengan perubahan organisasi kependidikan. Universitas haruslah lebih mempersonifikasi kurikulumnya terhadap bakat dan talenta mahasiswa. Dengan melakukan personifikasi, diharapkan perguruan tinggi dapat menjadi future university yang memiliki dampak signifikan dalam pengembangan diri/talenta mahasiswa.

Pada sesi kedua, para narasumber mengemukakan penguatan pendidikan kemiliteran, penguatan Aparatur Sipil Negara hingga perjalanan historis pembentukan karakter masyarakat Jepang. Mayjen TNI Chandra Wijaya mengungkapkan bahwa dalam era transisi teknologi yang saat ini berkembang pesat, Akademi Militer Republik Indonesia juga tengah melakukan lompatan-lompatan strategi dalam mendidik taruna muda akademi militer.

“Langkah-langkah yang dilakukan adalah memasukkan literasi digital menggunakan Artificial Intelligence dalam rangka menghadapi perkembangan ancaman dan perubahan framework perang,” ungkap Chandra.

Kesempatan selanjutnya, Sejarawan Meta Sekar Puji Astuti mengungkapkan bahwa filosofi Kaizen manjadi salah satu modal utama dalam perubahan masyarakat jepang. Kaizen dapat diartikan sebuah perbaikan, perubahan yang lebih baik dengan berkelanjutan. Tetapi, perubahan-perubahan yang dilakukan masyarakat Jepang, tetap dengan memasukkan unsur-unsur tradisional ke dalamnya sehingga mudah untuk disosialisasikan dan terinternalisasi dalam keseharian masyarakat.

Narasumber terakhir, yakni Alex Denni memaparkan tentang perbaikan sistem dan perekrutan Aparatur Sipil Negara dan juga ASN yang telah aktif. Penguatan yang ditekankan dalam sistem yang dimaksud juga menyentuh wilayah intangible. Dengan cara mengubah pola pikir para aparatur sipil negara dan menanamkan core value di tubuh institusi ASN sebagai roda penggerak. Dengan demikina, terjadi sinergitas antara kementerian dan lembaga pendidikan menuju Indonesia yang lebih baik di tahun 2045 nanti.

Di akhir acara, Atdikbud Yusli Wardiatno mengapresiasi kerja keras dan pemilihan tema webinar yang dilakukan oleh PPI Jepang. Dalam sambutannya, ia menutup dengan ajakan kepada seluruh jajaran PPI Jepang untuk menyumbangkan saran dan ide konstruktif bagi kemajuan bangsa dan negara. 

(Deka)