merdekanews.co
Minggu, 02 Mei 2021 - 21:27 WIB

Ahmad Baso: Nasionalisme Merupakan Strategi Jitu Walisongo Merangkul Semua Kalangan

Deka - merdekanews.co
KH. Ahmad Baso yang merupakan salah seorang cendekiawan Muslim Indonesia, dipandu oleh host KH. Zuhairi Misrawi.

Jakarta, MERDEKANEWS -- Episode ke-20 Ngabuburit bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan “MATA AIR KEARIFAN WALISONGO” pada Minggu, 02 Mei 2021, mengambil tema “Hubungan Walisongo dan Komunitas Tionghoa Hindu Bali”.

Narasumbernya adalah KH. Ahmad Baso yang merupakan salah seorang cendekiawan Muslim Indonesia, dipandu oleh host KH. Zuhairi Misrawi.

Setiap warga negara harus memiliki rasa nasionalime kepada bangsanya sendiri. Ini sebagai bentuk kesadaran dan cinta tanah air yang ditunjukan melalui sikap dan tingkah laku atau masyarakat tanpa memandang ras, suku dan agama. Semangat gotong royong adalah salah satu kunci utamanya. Semangat ini yang kemudian di gulirkan Walisongo dalam Komunitas Tionghoa Hindu Bali untuk menyebarkan nilai-nilai keberislaman yang senada dengan budaya Nusantara yang tengah berkembang pada waktu itu.

Hal itu disampaikan oleh KH. Ahmad Baso yang merupakan salah seorang cendekiawan Muslim Indonesia dalam acara ngabuburit bareng Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan, pada hari Minggu (2/5), pukul 17.00 WIB.

Kiyai Ahmad Baso menjelaskan “Kenapa orang bali bisa bertemu dengan para wali? Mereka ketemu pada level angajawi-nya, bernusantaranya, dulu bali hanya lokal-lokal, hindu lokal, tapi ketika bertemu dengan karakter nasionalnya, maka bangsa ini yang diperkenalkan oleh para Wali rasa persaudaraan dan gotong royong dalam menerapkan nilai islam di Nusantara.” Ujar Ahmad Baso.

Para wali ketika berdakwah di Nusantara, terlebih pada masyarakat komunitas Tionghoa Hindu Bali, mereka tidak semerta mengajarkan bagaimana cara masuk agama Islam, namun Walisongo lebih dulu mendalami psikologi dan problem yang tengah terjadi di kalangan masyarakat Bali kala itu. Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu problemnya adalah ekonomi. Walisongo berdakwah tidak seperti yang dipahami oleh sebagian orang, yakni hanya mengajarkan tentang ajaran Islam, namun yang dilakukan para Wali melampaui itu semua.

“Itu sebabnya ketika para Wali datang ke Bali tidak mengajarkan dulu bagai mana harus masuk Islam, enggak, diajarkan dulu bagaimana membangun ekonominya, bagaimana bisa maju, sejahtera, bagaimana bisa mandiri dan tidak bergantung pada impor.” Lanjut Ahmad Baso

Lebih jauh Ahmad Baso menjelaskan bahwa persaudaraan dan gotong royong merupakan strategi yang digunakan Walisongo menuju sebuah kebangkitan, sebuah etos kerja, bersama bekerja untuk masa depan yang lebih baik. Sehingga hadirnya Walisongo merupakan sebuah angin segar bagi komunitas Tionghoa Hindu Bali, bahkan mereka banyak belajar dari walisongo berbagai ilmu pengetahuan yang kemudian mereka praktekan dalam kehidupan sehari-hari.

“Salah satunya penulis bali di dokumentasikan dalam naskah-naskah sejarah mereka, mereka menyebut kenapa orang bali itu butuh kepada walisongo? Karena Walisongo merupakah solusi bagi keberlangsungan peradaban mereka. Banyak dari mereka yang berguru kepada sunan kalijaga, sunan ampel, sunan kudus, yang kita tahu sangat fikih oriented, itu ternyata orang bali berguru kepada Walisongo.” Jelas Ahmad Baso

Salah satu alasannya menurut Ahmad Baso, karena mereka orang-orang komunitas Tionghoa Hindu Bali menginginkan hidup yang sejahtera dan makmur. Lewat pintu inilah kemudian Walisongo mendakwahkan ajaran-ajaran agama Islam yang senada dengan adat budaya masyarakat di Bali. Misalnya masyarakat bali membutuhkan salah satu pengobatan tradisional lewat kalimat Bismillah yang merupakah salah satu ayat Al-Qur’an, hal ini diajarkan Walisongo tanpa memperdulikan apakah nanti masuk Islam atau tidak, yang paling penting adalah nilai-nilai keislaman diperkenalkan lebih dulu.

“Kenapa mereka butuh Walisongo? Pertama mereka butuh hidup sejahtera dan makmur. Yang kedua bagaimana mereka belajar tentang ilmu pengobatan, jimat-jimat, bacaan, dan rajah. Semisal lafadz bismillah yang sering kita baca, pada waktu itu bagai orang bali merupakan bacaan pengobatan. Dan diyakini dapat menyembuhkan sebuah penyakit.” Pungkas Ahmad Baso.

Program Ngabuburit Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan dengan tema besar ‘Mata Air Kearifan Walisongo’ hadir setiap hari pada bulan Ramadhan pukul 17.00 WIB dapat diikuti melalui kanal Youtube: BKNP PDI Perjuangan, Instagram: BKNPusat dan Facebook: Badan Kebudayaan Nasional Pusat.

(Deka)





  • Ngatawi Al-Zastrow: Penyebab Radikal Adalah Hati yang Mati Ngatawi Al-Zastrow: Penyebab Radikal Adalah Hati yang Mati Hati, adalah sebuah anugerah Tuhan, yaitu dengan adanya hati kita dapat merasakan diluar dari panca indra kita. Hati mengajarkan orang untuk bertindak-tanduk baik dalam kehidupan, hati pun mengarahkan kehidupan ini untuk menciptakan suasana yang harmonis sebagai makhluk sosial.


  • Pandemi Ini Rahmat, Kita Tidak Boleh Keliru Mencerna Pandemi Ini Rahmat, Kita Tidak Boleh Keliru Mencerna Dr. Ahmad Ubaedy Hasbillah M.A, Dosen PTIQ Jakarta berusaha mengangkat pemahaman kita di masa pandemi Covid-19 ini. Dia menyebut bahwa marabahaya ini merupakan suatu rahmat Allah dan kita tidak boleh keliru mencernanya.