merdekanews.co
Selasa, 04 Desember 2018 - 23:34 WIB

Oleh: Joko Intarto

GARA-GARA LIVE STREAMING REUNI 212

Joko Intarto - merdekanews.co
Foto: Pak Nurganda dan bonding encoder-nya di smart meeting room kantornya.

Peluang itu muncul begitu saja. Tidak pernah saya sangka-sangka. Semua gara-gara cerita sulitnya mendapatkan bandwidth di balik siaran langsung Reuni PA 212 yang viral itu.

(https://www.facebook.com/joko.intarto.9/posts/1874764135906886).

Rabu sore, saya mendapat tawarkan dari ACIS, perusahaan penyedia solusi komunikasi digital di Jakarta. Untuk memanfaatkan produknya: bonding encoder berbasis jaringan data selular.

Bonding encoder ini bermanfaat untuk siapa saja yang perlu mengirimkan data menggunakan jaringan selular (smartphone, modem atau access point) tetapi bandwidth-nya tidak memadai atau tidak stabil. Nah, fungsi bonding encoder itu menggabungkan bandwidth mulai dari 2 hingga 8 kartu sekaligus sehingga bandwidhnya makin besar dan makin stabil.

Perangkat bonding encoder ini sangat membantu banyak pihak yang harus mengirim data besar. Misalnya, untuk menjadi pembicara dan seminar online, training online dan meeting online menggunakan webinar.

Dalam berbagai kesempatan webinar dan live streaming, peserta di daerah sering gagal berinteraksi menggunakan audio-video kamera karena bandwidth-nya tidak mendukung.

Untuk bisa berdialog menggunakan audio-video, peserta harus memiliki bandwidth dengan upstream minimal 1 Mbps yang stabil. Penggabungan bandwidth beberapa kartu selular itu terbukti menghasilkan bandwidth yang lebih stabil.

Wartawan televisi yang harus live report juga memerlukan bonding encoder. Stasiun televisi membutuhkan video dengan kualitas minimal HD (720p). Untuk mengirim video tersebut, reporter memerlukan bandwidth minimal 4Mbps.

Di pasaran, banyak merk bonding encoder yang beredar. Tetapi harganya terlalu mahal. Tiga tahun lalu, harganya berkisar Rp 135 juta per unit. Harga terbaru sudah turun, tetapi masih di kisaran Rp 90 juta per unit.

Untuk kebutuhan yang tidak rutin, membeli bonding encoder menjadi terlalu mahal. Lebih baik sewa. Persoalannya, sewa di mana? ‘’Kami siapkan perangkatnya. Saya siapkan bonding encoder sebanyak 500 unit. Pak Joko dipersilakan menjalankan bisnis sewanya. Kalau masih kurang, kami tambah unitnya,’’ kata Pak Nurganda CEO ACIS.

Saya bertemu Pak Nurganda berkat Pak Aribowo, GM operasional ACIS. ‘’Saya ingin membantu Jagaters dalam melayani jasa live streaming dan webinar. Kalau ada waktu mampirlah,’’ kata Pak Aribowo melalui pesan pendek.

Rabu petang saya punya sedikit waktu. Sekitar sejam. Sebelum mulai produksi video tutorial bisnis syariah di kantor Karim Consulting.

Sebelum pulang, Pak Nurganda menawarkan dua unit bonding encoder. Sebagai perangkat presentasi dan demo, bila ada relasi saya yang memerlukan.

Mendapat tawaran itu, saya hanya bisa bengong. Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Mimpi apa saya semalam?  (Joko Intarto)


  • ERA YANG CEPAT MENGALAHKAN YANG LAMBAT ERA YANG CEPAT MENGALAHKAN YANG LAMBAT Revolusi industri 4.0 ditandai dengan fenomena baru: yang cepat mengalahkan yang lambat. Tantangan lembaga zakat dalam revolusi industri 4.0 menjadi salah satu topik diskusi dalam Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) 2018.


  • BARISTA ANTI MATI GAYA BARISTA ANTI MATI GAYA Banyak pengalaman lucu selama mengikuti Indonesia Shari'a Economic Festival 2018. Apalagi dengan penampilan barista di stand Bank Indonesia.


  • Membangun Harapan dari Museum Kanker Surabaya Membangun Harapan dari Museum Kanker Surabaya Di sela-sela agenda yang padat di Surabaya, saya menyempatkan sedikit waktu untuk menemui dr Ananto. Pendiri Museum Kanker Surabaya. Yang juga museum kanker satu-satunya di dunia itu.


  • JIHAD EKONOMI, MENGHAPUS PROSTITUSI JIHAD EKONOMI, MENGHAPUS PROSTITUSI Banyak cerita menarik di balik pelaksanaan pameran industri keuangan syariah terbesar di Indonesia: ISEF 2018. Selama pameran, saya akan menulis catatan bersambung untuk Anda. Tulisan pertama hari ini: Pondok Pesantren Saung Balong Al-Barokah yang fenomenal.