Jakarta, MERDEKANEWS -- Polisi mengatakan bahwa berkas perkara kasus pornografi anak dengan satu orang tersangka, Bagas Arista Herlyanto (BAH), telah dinyatakan lengkap atau P21 oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur.
Kasus pornografi anak tersebut diduga dilakukan oleh pemilik, pengguna, dan/atau penguasa akun email [email protected] dan [email protected]; alias pemilik, pengguna, dan/atau penguasa nomor telepon +628135932xxxx.
“Berdasarkan laporan Polisi Nomor: LP/A/9/V/2024/SPKT.DITTIPIDSIBER/BARESKRIM POLRI, tanggal 22 Mei 2024, penyidikan perkara dugaan tindak pidana pornografi anak oleh pemilik dan/atau pengguna dan/atau penguasa akun email [email protected] dan [email protected] alias pemilik dan/atau pengguna dan/atau penguasa nomor handphone +628135932xxxx, sebagaimana telah diterimanya surat P21 dari JPU dengan satu orang tersangka pada tanggal 16 Juli 2024,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Erdi A Chaniago dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Lebih lanjut, Erdi menuturkan bahwa BAH membuat konten pornografi anak sejak September 2022 hingga Juni 2023. Konten tersebut diunggah pada email [email protected], lalu disimpan pada gawai dan laptop miliknya.
Total lebih kurang 100 foto yang diproduksi oleh BAH untuk konsumsi pribadi. Erdi memgatakan, mirisnya salah satu yang menjadi objek perkara ialah anak-anak dengan inisial D, yang tidak lain merupakan keponakan tersangka.
“Adapun penyerahan tersangka dan barang bukti atau tahap dua akan dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 23 Juli 2024 di Kejaksaan Negeri Gresik,” imbuh Erdi.
Dalam kasus ini, penyidik menyita sejumlah barang bukti dari tersangka, antara lain, satu buah kartu tanda penduduk atas nama tersangka, satu unit gawai merek Oppo warna hitam, satu unit gawai merek Realme, dua buah kartu sim gawai, satu buah laptop merek HP warna hitam, tujuh buah akun email, dan satu buah diska lepas (flashdisk) berisi hasil ekspor email tersangka.
Tersangka dijerat dengan Pasal 45 ayat (1) juncto Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 29 jo. Pasal 4 ayat (1) dan/atau Pasal 37 jo. Pasal 11 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan/atau Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.
BAH ancaman pidana paling lama 12 tahun penjara dan denda paling banyak Rp6.000.000.000,00. “Polri selalu berupaya menciptakan lingkungan aman untuk anak-anak dengan memberantas para pelaku kekerasan dan pelecehan seksual pada anak, sebagai langkah menjaga masa depan anak-anak kita,” tegas Erdi.
-
8 Keluarga Korban Kebakaran Glodok Plaza Melapor ke RS Polri Masuk laporan ada delapan. Jadi ada delapan keluarga yang sudah melaporkan ke posko orang hilang posko Ante Mortem,
-
18 Personel Polri Diduga Terlibat Kasus Pemerasan, Jenderal Listyo Sigit Tak Ragu Tindak Tegas Para Pelaku Terhadap pelanggaran-pelanggaran, saya kira kita juga tidak pernah ragu untuk melakukan tindakan tegas dan itu menjadi komitmen kami
-
KKEP Jatuhi Sanksi PTDH untuk AKBP Malvino Buntut Kasus DWP dinyatakan melakukan pelanggaran etik terkait dugaan pemerasan pengunjung konser Djakarta Warehouse Project
-
Jenderal Listyo Sigit: Sentimen Negatif 2024 Terhadap Korps Bhayangkara Jadi Evaluasi Perbaikan Sentimen negatif terhadap Korps Bhayangkara akan menjadi bahan perbaikan ke depan
-
Hasil Sidang Kode Etik: Dirnarkoba Polda Metro Jaya Dipecat Buntut Kasus DWP 2024! Hasilnya, Kombes Donald Simanjuntak dipecat dengan tidak hormat