merdekanews.co
Minggu, 23 Februari 2020 - 08:50 WIB

Tokoh Senyap Suhendra: Implementasi Butir-butir MoU Helsinki Kunci Kebangkitan Aceh

Setyaki Purnomo - merdekanews.co
Suhendra Hadikuntono (Kiri) Bersama Presiden Joko Widodo (Kanan).

Aceh, MERDEKANEWS - Yayasan Sukma Bangsa, Sabtu (22/2/2020), menggelar "Kenduri Kebangsaan" di Kabupaten Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam acara yang dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini ada perisitwa menarik.

Selain Presiden Jokowi, hadir pula Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Al-Haythar, beberapa menteri Kabinet Indonesia Maju, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, dan beberapa tokoh nasional di antaranya tokoh intelijen senior Suhendra Hadikuntono yang juga dikenal sebagai "tokoh senyap".

Dalam sambutan, Jokowi menyebutkan tentang keinginan dan niat baik pemerintah pusat untuk menyelesaikan secara komprehensif implementasi butir-butir Kesepakakatan Perdamaian atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005, yang belum direalisasikan.

Menanggapi hal tersebut, tokoh intelijen senior Suhendra Hadikuntono, yang pada acara tersebut berbincang secara langsung dengan Presiden Jokowi, mengemukakan optimisme yang tinggi bahwa implementasi butir-butir MoU Helsinki yang belum dipenuhi akan segera direalisasikan oleh pemerintah.

"Saya sangat percaya terhadap itikad baik Presiden Jokowi untuk menyelesaikan secara tuntas MoU Helsinki, dan tidak terkecoh oleh cipta kondisi pihak mana pun yang tidak ingin hal ini terbuka, karena akan banyak pihak yang terkena dampaknya. Selain itu, menurut saya penyelesaian secara komprehensif MoU Helsinki merupakan kunci bagi kemajuan Aceh secara ekonomi, asal ada perbaikan tata kelola pemerintahan dari Pemprov Aceh," ujar Suhendra di Bireuen, Sabtu (22/2/2020).

Suhendra dikenal sebagai tokoh utama yang mendorong normalisasi kembali hubungan GAM dengan pemerintah pusat yang menghasilkan percepatan implementasi butir-butir MoU Helsinki yang sempat 15 tahun mengalami "dead lock", akhirnya mendapatkan kemajuan signifikan.

Kemunculan Suhendra bertemu langsung dengan Presiden Jokowi secara tiba-tiba di acara tersebut, seolah menjawab rumor akan adanya pergantian Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Di mana Suhendra diplot menggantikan Budi Gunawan.

Saat dikonfirmasi tentang hal tersebut, Suhendra tidak mau merespons, dan segera menghindar seraya mengatakan "no comment'. "Itu adalah hak prerogatif Presiden Jokowi. Kedatangan saya di Bireuen ini dalam kapasitas saya sebagai sahabat Wali Nanggroe, dan memastikan tidak boleh ada pelemahan-pelemahan terhadap kebijakan Bapak Presiden, khususnya di Aceh," ujarnya.

Lebih lanjut Suhendra mengajak semua pihak baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk merealisasikan arahan dan instruksi Presiden Jokowi terkait penuntasan MoU Helsinki. "Para pejabat negara di pusat harus bertindak obyektif dan arif mengikuti arahan Presiden Jokowi. Perspektif penyelesaian masalah implementasi butir-butir MoU Helsinki harus tetap mengacu pada arahan dan instruksi Presiden. Saya minta semua pejabat tidak memberikan masukan yang kontraproduktif dengan niat baik Presiden Jokowi untuk rakyat Aceh," pungkas Suhendra.

Yang tak kalah menarik dalam rombongan Suhendra terdapat Yanes Yoshua Frans, calon Wakil Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), yang juga dikenal "Singa Tua" di kalangan relawan.
    
    
    

  (Setyaki Purnomo)






  • Suhendra Ingatkan Fadli Zon dan Rizal Ramli Jadi Tokoh Bijak Suhendra Ingatkan Fadli Zon dan Rizal Ramli Jadi Tokoh Bijak Mantan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon seolah bersahut-sahutan dengan ekonom dan mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli dalam cuitannya di akun Twitter. Mereka mempermasalahkan kedatangan 49 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok melalui Bandara Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (15/3/2020).