merdekanews.co
Minggu, 26 Mei 2019 - 13:00 WIB

Oleh: Djono W. Oesman

Capres Pemberani di Zaman Itu

*** - merdekanews.co
Suasana Newsroom Jawa Pos Jakarta, tahun 1989. Foto: Dicky Subagio

Kontestasi Jokowi vs Prabowo Subianto, heboh. Saya flashback pengalaman di Jawa Pos. Terkait Capres juga. Cuma, ini fokus karya jurnalistik. Bukan politik.
----------------


Februari 1992, Koran Pelita memuat berita singkat: 

Wakil Ketua Litbang DPP PDI (saat itu belum pakai P), Berar Fathia, akan mencalonkan diri sebagai Presiden RI.

Zaman itu (Orde Baru) Berar dianggap orang gila. Tercatat di sejarah Indonesia (seharusnya). Kalau toh tidak tercatat, pernah dimuat di Jawa Pos.

Waktu itu, jangankan berkompetisi (Pilpres). Boro-boro. "Akan Mencalonkan" saja sudah dianggap orang gila.

Presiden RI Soeharto, selalu calon tunggal. Dari periode ke periode.

Pak Harto terlalu kuat. Orang hebat Indonesia zaman itu.

Di kasus Berar Fathia, PDI tidak (berani) mendukung Berar. Tapi, Berar ngotot akan mencalonkan diri. Bener-bener orang sinting.

Di berita Koran Pagi Pelita (eksklusif) dimuat: Ia akan konferensi pers, esoknya.

Berita singkat. Kecil pendek. Nyempil di halaman dalam. Saya kira, Pelita grogi memberitakan di halaman depan. Walaupun mereka tahu itu berita besar.

Akibatnya, itu tidak terbaca kawan-kawan Jawa Pos, dari pagi sampai sore.

Luput-lah, dari pantauan kru Jawa Pos.
------------

 

NEWSROOM, JAWA POS JAKARTA, MALAM HARI

Para jurnalis Jawa Pos sibuk menulis berita. Deadline beberapa jam lagi. Sepi tapi sibuk.

Redaktur Pelaksana, Nani Wijaya, membaca berita di Pelita itu. 

Telat... Mestinya, itu dibaca tadi pagi. Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali, kata pepatah.

Mendadak dia berteriak-teriak, sambil menenteng koran: 

“DWO (panggilan saya) ini berita besar... Ada orang gila mau nyaingi Pak Harto..."

Teriakannya memecah sepi. Merobek newsroom.

Terutama, inisial saya dipanggil. Saat itu saya (wartawan) sedang mengetik berita. Spontan, menengok Nani.

Nani: "Buat berita boks. Sekarang....” 

Dia meletakkan Koran Pelita di meja saya. Plek... Saya baca cepat.

Memang berita besar. Tapi sekarang pukul 20.10. 

Mati, deh... Tugas mustahil.

"Buat Boks", artinya menulis berita features tentang 'Orang Gila Berar Fathia'.

Features adalah jurnalistik sastra. Dipelopori Wartawan Amerika, Tom Wolfe (1960). Berkembang di Amerika 1980-an. Diadopsi Majalah Tempo di tahun-tahun itu juga. Dipakai Jawa Pos pula.

Features berbasis peristiwa. Real time. Fokus pada human interest. Orang, dan perilakunya, dan latar belakangnya, pada suatu peristiwa. Hasil wawancara dan observasi. Ditulis bergaya sastra. Gaya novel.

Tom Wolfe mengadaptasi gaya tulisan novelis legendaris Amerika, Ernest M. Hemingway (1899 - 1961). Tentu, mendayu-dayu. Melankolik. Sekaligus, straight to the point.

Di Jawa Pos, features dinamakan Boks. Letak pemuatan di bagian bawah halaman koran. Digarisi kotak. Mencolok. Biar gampang, disebut Boks (kotak).

Boks di Jawa Pos, bidang tugas saya. Ngeboks. Atas perintah Pemimpin Redaksi (saat itu), Dahlan Iskan.

Jadi, sudah tepat Nani memanggil inisial nama saya. 

Juga, tepat 'orang gila' Berar Fathia target Boks.

Yang mustahil: Waktu. Penugasan 20.10 deadline 00.00.

Kayaknya ini penugasan emosional. Kemarahan komandan, bahwa kami kecolongan. Luput baca koran. Walau di jurnalistik berlaku adagium: "Tidak ada anak buah bodoh. Yang salah komandannya."

Kini, komandan kebakaran. Meluap-luap. Gibras-gibras.

Nani teriak-teriak... Mengerahkan seluruh personil Redaksi, cari alamat Berar. 

“Cepat.... cepat.... kalian bantu DWO. Cari alamat Berar,” teriaknya.

Personil Redaksi yang sudah sibuk mengetik berita, ditambah beban. Jurnalistik kerja tim. Meski, skill individu paling utama.

Saya telepon wartawan Pelita. Siapa tahu, wartawannya tahu alamat Berar. Siapa tahu, dia mau memberitahunya, walau kami pesaing.

Rasyid Sulaiman (pos DPR) gunakan telepon fax. Menghubungi anggota PDI. 

Sukardi (pos Mabes ABRI) gunakan telepon bagian iklan. Menghubungi para petinggi ABRI.

Semua saluran telepon Jawa Pos digunakan. Khusus out-call. Menutup telepon masuk.

Kabiro, Edhi Aruman buka-buka buku telepon. Yellow pages. Siapa tahu, ada nama Berar di situ.

Saya akui: Nama-nama jurnalis di atas, dan nama-nama senior lain, membesarkan Jawa Pos zaman itu. Dari nol ke sesuatu. Dari sesuatu ke konglomerasi pers.

Pukul 21.00 lewat dikit. 

Rasyid lapor: Alamat di Bekasi. Tapi titik lokasi masih dicari. Info permulaan yang berharga.

Tambah malam, saya kian gelisah. Kalau lokasi ketemu, bola panasnya otomatis pindah ke saya. Tugas memburu itu.

Saya hitung, seandainya, alamat ketemu sekarang. Saat ini juga.

Saya akan berangkat dengan motor Suzuki A 100. Bakal tiba di Bekasi (dari kantor Jl Prapanca Raya 40, Blok M, Jakarta Selatan) kira-kira pk 22.00. Atau lewat dikit.

Wawancara Berar sejam. Minta dokumentasi foto dia. 

Berar Fathia. Foto: Tempo

 

Kalau motret, gak keburu. Tidak ada toko cuci-cetak negatif film, buka 24 jam. Jawa Pos Jakarta belum punya studio cetak film.

Usai wawancara 23.00. Balik ke , tiba kurang-lebih 00.00 (deadline). Habis. Belum mengetik beritanya. Berita ber-sastra, pula.

Tapi seumpama itu terjadi, ada dispensasi khusus. Stop press. Ditoleransi sampai sekitar 02.00.

Nani jalan mondar-mandir. Kayak ayam betina mau bertelor.

"Ayo... ayo... ayo... Masak, cuma Bekasi?" teriaknya. Membedah sunyi. Mengoyak sibuk.

Tetap saja tak ada perkembangan.

Sekarang saya berdoa, jangan sampai alamat ketemu. Semoga gagal. Kalau perlu, sabotase.

Saya tidak mungkin ber-sastra dalam kondisi panik. Ber-novel buru-buru. Pakai stopwatch.

Pukul 22.00. 

Tidak ada perkembangan. Suasana kantor senyap.

Akhirnya Nani menyerah. Stop, cari alamat Berar. 

"Kalian kerjakan pekerjaan semula," katanya kepada tim.

Rasional. Andaikata dipaksakan, para jurnalis tidak mengerjakan tugas awalnya. Bisa berantakan isi Jawa Pos.

Saya senang. Nani kecewa, menyanyi:

"Dasar... wartawan gombal semua," teriak Nani. "Mestinya kalian baca semua koran pagi-pagi, tau..."

Betul dia. Standard Operation Procedure (SOP) memang itu. Telinga wartawan harus lebar. Mendengar apa pun dari mana-mana. Termasuk baca koran. 

Praktiknya, baca koran sering diabaikan. Berita koran umumnya 'dihabisi' koran itu. Tak bersisa. Kecuali, khusus, berita Pelita ini. 

Tapi, kemarahan Nani terakhir tidak lagi galak. Cenderung menghiba. Kayak tangisan, malah.

Saya tahu, dia sudah telepon kantor pusat di Surabaya. Berarti Surabaya sudah menyiapkan space. Kapling. Boks. Ditunggu... Ternyata gagal.

Beginilah kerja tim. Tanggung-jawab berjenjang. Tanggung renteng.

Saya tidak tahu, bagaimana pihak Surabaya mengatasi. Mengisi kekosongan space. Pastinya disiapkan Plan B.

Yang jelas, Nani lalu mendekati saya. Berkata geram:

"Besok kamu ke konferensi pers. Gak tau, gimana caranya, tulisanmu unggul."

"Siap..."

Ini juga nyaris mustahil. 

Konferensi pers berarti semua wartawan kompetitor hadir. Menulis hal yang sama. Topik sama. Meskipun gaya penulisan berbeda.

Saya pikir, Boks tidak lahir dari konferensi pers. Tidak. Dia punya keunggulan komparatif. Istilah sulitnya: Diferensiasi Produk. Gampangnya: Nyleneh (bahasa Jawa). Hasilnya: Whaow...

Tapi profesionalisme punya konsekuensi berentet. Berkesinambungan. Satu kesalahan kecil di awal (gak baca koran) berakibat besar di waktu berikutnya. Menggelembung. Tambah sulit.

Saya jadi galau. Nani, menuju meja telepon.

Dia menelepon kantor Starco. Kirim pesan lewat Motorola. Ditujukan ke pager wartawan foto kami, Umar Fauzi. Isi pesan, penugasan memotret di konferensi pers, besok.

Pager (waktu itu) canggih. Sekotak rokok. Melekat di pinggang. Alat komunikasi satu arah. Bisa terima pesan, gak bisa balas.

Nani bilang ke saya: "Kamu tulis yang dahsyat. Biar Umar memotret yang bagus."

"Siap..."
----------------


HUNTING BERITA, PAGI-PAGI

Saya pulang kantor sudah dini hari. Sedangkan, konferensi pers pagi sekali.

Pagi, 05.00 saya berangkat. Sampai lokasi, kantor LPHAM Jalan Kalipasir, Jakarta Pusat, belum 06.00. 

Kantor itu bentuknya rumah kuno. Besar, berhalaman luas. Gerbang pagar besi masih tergembok.

Acara masih sejam lagi.

Saya tidak boleh jauh-jauh dari rumah ini. Begitu gerbang dibuka Office Boy, saya pengunjung pertama yang masuk.

Berar datang kira-kira seperempat jam sebelum acara dimulai. 

Menyusul datang dua wartawan majalah yang saya anggap bukan pesaing. Karena mereka terbit mingguan, Jawa Pos harian. Kami wawancara tuntas, cepat.

Bahan baku, data Boks sudah saya pegang. 

Berar memang pemberani. Berani pada Pak Harto. Dengan aneka antisipasi. Sampai risiko terburuk. Terhadap dia dan keluarga. Partainya lepas tangan. Dia sendirian. Orang gendheng, memang.

Saat acara berlangsung, saya hanya nonton. Tidak perlu interview lagi.

Inilah kelemahan konferensi pers: Narasumber obral wacana. Program-program. Rencana-rencana. Target-target. Mengatas-namakan rakyat. Demokratisasi. Dan, bahasa langit lainnya. Tidak ada humanisme.

Sedangkan, sesi tanya-jawab selalu berantakan. Pertanyaan-pertanyaan wartawan saling potong. Saya ikut menggembosi arena. Dengan pertanyaan 'bahasa langit'. Supaya audience tergiring ke situ. Jauhkan humanisme.

Tapi saya gelisah, Umar belum muncul. 

Saya lobby fotografer lain, minta foto, tapi tak digubris. Kami memang bersaing.

Pukul 08.00 saya keluar mencari konter telepon umum. Pakai logam Rp 50. 

Saya telepon kantor. Siapa tahu, Umar di sana. Ternyata diterima Nani. Saya lapor kondisi.

Ampun, deh... dia marah-marah. Nyerocos... Bertanya-tanya, mengapa Umar belum datang?

Dia perintahkan: Harus dapat foto. Terserah, apa pun caranya. 

Dia berteriak, mengumpat: “Dasar... Wartawan gombal semua...” ujarnya. 

Saya balik ke lokasi acara. Konferensi pers masih berlangsung. Saya merayu fotografer, minta foto. Tetap nihil.

Ada, Fotografer Media Indonesia, namanya Gino. Menyarankan begini: "Ikut saya ke Media Indonesia. Trus... kamu nego ke bagian keuangan, beli foto saya."

Seandainya dia beri saya gratis, dia berisiko dipecat. Angle foto yang dimuat koranku dan dia bakal mirip.

Sebaliknya, doktrin Jawa Pos: "Terserah, apa pun caranya... Asal jangan beli."

Jalan buntu. Mentok.

Di saat saya frustrasi, mendadak pager di pinggang saya bergetar. Pesan dari Umar Fauzi: "Minta petunjuk arah ke lokasi acara..."

Diamput... Umar ini arek Suroboyo. Baru beberapa minggu dipindah tugas ke Jakarta.

Terpaksa, saya balik ke telepon umum. Menghubungi Starco. Ditujukan ke pager Umar. Liku-liku jalan. Diakhiri pesan: "Cepaaat... atau dipecat."

Ketika saya balik lagi ke acara, konferensi pers baru saja bubar. Alamak... masalah bertubi-tubi.

Untung, Berar belum pulang. Saya dekati dia. Saya memohon-mohon, dia bersedia menunggu. Dan untungnya dia mau. Saya sedikit mengancam, bahwa berita ini sulit dimuat, tanpa foto. 

Dia menurut. Kami ngobrol lama, menunggu Umar.
---------------


WOW... MAIN GAME DIGGER

Mengapa Umar sangat terlambat? Ternyata mis-komunikasi.

Usai kemelut tugas ini, Umar cerita ke saya: Dia tidak pernah ditugasi Nani ke acara itu.

"Pagerku, lho... kosong. Tak ada tugas," ujarnya, emosi.

Dengan geram dia mencopot pager di pinggang, digeletakkan ke meja. Tergolek-golek. "Lihat, nih. Kosong..."

Umar, marah pun lucu. Posturnya mirip pelawak Doyok. Berkacak pinggang, menunjuk pager hitam di meja. Dia colek-colek: "Tuh... 'kan. Kayak iwak lele mati..."

Saya hanya manggut-manggut. Menyimak curhat dia.

Ceritanya, pagi itu dia ke kantor. Berniat utang ke Endang, bagian keuangan. 

Dijawab Endang, tunggu hasil tagihan iklan, siang nanti. Umar menunggu di kantor.

Karena merasa belum ada tugas, sambil menunggu, dia masuk ruang redaksi.

Pilih komputer, Umar main digger (game zaman itu). 

“Sekilas, di belakang saya ada cewek main digger juga. Dia cuma kelihatan rambutnya, sebab terhalang sandaran kursi. Kayaknya cewek bagian iklan,” katanya. 

Cewek dan Umar duduk saling membelakangi. Sama-sama asyik main digger.

Ketika telepon kantor berdering (ya.... itu telepon dari saya, dari lokasi acara). Cewek mengangkat telepon.

Nah... di situlah cewek menyembur sumpah-serapah: "Dasar.... Wartawan gombal semua..."

Umar terkaget-kaget. Namanya disebut-sebut.

Si cewek mengakhiri telepon, dengan membanting gagangnya. Prak....

Pada saat bersamaan, Umar berdiri. Beringsut pelan, berniat kabur. 

Tapi telat. 

Justru dia langsung berhadapan hidung dengan Nani.

Sejenak mereka tertegun. Hidung dengan hidung. Nani berkacak pinggang. Wajahnya memerah, melihat komputer Umar bergambar digger.

Game Digger tahun 1989

 

Disembur-lah dia: “Ternyata... kamu ngumpet disini, ya. Main digger. Cepat pergi, wartawan gombal....” teriak Nani menggebrak meja.

Umar melompat menuju pintu. Kabur…

Tapi, ia balik lagi. 

Lha... Tas kameranya ketinggalan. Sial banget. 

Saat mengambil tas itulah, dia melirik komputer Nani. Gambarnya sama: Digger.

Nani tambah panas. Emosi tinggi. Berusaha mencopot sepatunya, sepatu hak tinggi. 

Tapi saat sepatu hendak dilemparkan, Umar sudah mencetat. Melabrak pintu, ngaciiir….

Nani terus mengejar. 

Dengan langkah dingklang (terseok-seok) karena pakai sepatu tinggi sebelah, Nani merangsek ke pintu. Memburu Umar. Dengan sepatu diangkat tinggi-tinggi.

Saat pintu dia buka, Umar sudah menyelinap di halaman parkir. Cepat. Luar biasa...

Vespa tua Umar distarter gak hidup-hidup. Panik.

Sebelum Nani nyusul ke halaman, membawa sepatu, Umar mencengkeram kopling. Masuk gigi dua, Vespa didorong abis... Sambil lari. Gas pol...

Vespa melaju, setelah terbatuk-batuk. 

Umar lolos.... saudara-saudara...
-----------------


UMAR, SANG SUTRADARA

Begitulah... Sehingga, Umar dan saya bersitegang di lokasi konferensi pers. Ketika dia baru tiba di sana.

Saya menggerutu: 

“Suwene, Mar... Bu Berar nunggu sejam lebih, nih...”

Eee… Umar membalas sengit: 

“Sampeyan ojo cuma nyalahno wong thok. Aku iki gak ditugasi opo-opo, kok moro-moro diclatu Nani.”

(Anda jangan hanya menyahlahkan orang. Saya ini tidak pernah ditugasi. Mendadak didamprat Nani)

Berar ternyata mengerti bahasa Jawa kami. Dia: 

“Sudah, sudah.. jangan berdebat. Ayo foto, saya mau cepat ke kantor,” katanya.

Umar segera beraksi dengan kameranya.

Saya sedih. Terbayang, gambarnya pasti jelek, karena tak ada suasana konferensi pers.

Umar ternyata memikirkan itu juga. 

Setelah beberapa jepretan ke Berar, ia berhenti. Toleh kanan-kiri. Celingukan. 

Ada tiga pembantu wanita yang mengemasi sampah. Umar mengajaknya:

“Ayo, mbak... kalian duduk di sini, menghadap kesana,” kata Umar, jadi sutradara.

Ada lagi dua lelaki, mungkin office boy. Digeret Umar supaya ikut duduk berderet di kursi yang tadi untuk wartawan. 

Sedangkan Berar diatur, agar duduk di tempatnya bicara tadi, di depan mikrofon.

Sang sutradara Umar: "Tolong.... Bu Berar... bicaralah di mikrofon."

Umar belum puas: "Gaya tangannya, Bu... Nunjuk-nunjuk begini...."

Saya perhatikan dengan sedih. Capek deh...

Selesai. Berar pulang.

Dalam perjalanan pulang, saya - Umar sama-sama naik motor. Saya usul, foto pembantu dan office boy sebaiknya gak usah dicetak. Bisa bahaya. 

Tapi pembicaraan kami tidak efektif. Sebab kami sama-sama nyetir motor. 

Lantas kami berpisah, liputan lagi ke tempat lain. Sehari kami diwajibkan tiga berita.
----------------

GOMBAL-NYA MASIH KETINGGALAN

Jelang sore saya ngetik di kantor. Umar datang langsung membuat kopi di dapur. 

Nani muncul. Eng... ing.... eng...

Dia langsung mendekati saya:

“Bagaimana hasilnya, DWO?” 

Saya jawab tegas: 

“Pokoknya, semua koran lain kalah di edisi besok.”

Nani mendesak: 

“Mengapa bisa begitu?” 

“Analisis saya, berdasar back ground Berar, dia memang setengah gila. Dan, wartawan lain gak wawancara sedalam ini.”

"Mengapa wartawan lain gak punya itu?"

"Saya wawancara eksklusif, sebelum ada wartawan lain."

Wajah Nani pun tampak ceria.

Dia lalu pergi. Pasti mencari Umar. Bakal seru, nih…

Begitu ketemu, Nani hanya tanya foto Berar. Tidak tanya lain-2. 

Dari jauh saya melirik Umar membuka tas. Itu tas kamera besar. Dia membuka dengan lambat. Kayak ragu, gitu.

Umar mengeluarkan beberapa foto Berar sendirian.

Sudah betul, pikirku.

Tapi Nani minta lebih: 

“Mana yang lain? Mana yang konferensi pers?” 

Umar ogah-ogahan merogoh tasnya. Mengeluarkan beberapa foto lagi. Pelan-pelan.

Aduh-aduh biyung....

Nani terpana. Meneliti. Memandangi foto-foto 'konferensi pers’. 

Wajahnya merengut, geleng-geleng: “Ini foto babu-babu...” teriaknya, membanting foto ke meja. Berserakan.

Umar berusaha menjelaskan. Tangannya merentang.

Nani keburu keluar kantor. Pergi begitu saja. Berteriak. Mengumpat-umpat. Menggombal-gombal. "Dasar... gombal..."

Umar tak mau kalah. Pergi juga.

Sepi... 

Semua wartawan di kantor tertegun. 

Hanjriiit... Mau gak mau, saya memunguti foto-foto. Pilih beberapa. Saya serahkan ke Totok (OB) agar dikirim lewat Bandara Soetta.

Caranya: Titip ke penumpang pesawat tujuan Surabaya. Nanti sukarelawan itu akan dijemput orang Jawa Pos di Bandara Juanda, Surabaya. Begitu-lah teknologinya.

Esoknya, Jawa Pos memuat Boks saya. Fotonya bukan yang 'babu-babu', melainkan Berar sendirian. Mejeng gitu. Meringis...

Setelah berita termuat, di banyak koran, Berar Fathia tak ada kabarnya lagi. Dicari tak ketemu. Entah kemana. Demokratisasi hanya mimpi.

Fokusku bukan demokratisasi. Bukan. Tapi, Umar. Sang sutradara.

Kalau suatu saat anda ketemu dia, jangan coba tanya foto babu-babu. Jangan tanya itu. Miris.

Sebab, dia bakal berkacak pinggang. Menggeletakkan HP di meja. Tergolek-golek. "Lho... kayak iwak lele mati..."  (***)






  • Jawa Pos Punya versi Mudik, Begini... Jawa Pos Punya versi Mudik, Begini... Jelang Lebaran, mudik. Tradisi kita. Tapi, sedikit yang tahu, bahwa mudik di Jawa Pos, unik. Saya berkarir jurnalistik 24 tahun (1984-2008) di situ. Punya kenangan. Lucu-lucu.