merdekanews.co
Minggu, 10 Februari 2019 - 12:08 WIB

Diancam Bubar Paksa, Diskusi Berantas Wartawan Pemeras Tetap Lanjut

Hadi Siswo - merdekanews.co

Jakarta, MERDEKANEWS -- "Upaya memberantas wartawan pemeras, justru menghasilkan teror," kata Panitia Diskusi Publik 'Memberantas Jurnalis Abal Abal' di Dewan Pers Jakarta, Sumarsono kepada wartawan, Minggu (10/2/2019).

 

"Kami selaku penyelenggara diteror melalui WA (Whatsapp). Mereka mengancam akan membubarkan paksa diskusi," katanya.

Diskusi akan digelar di Gedung Dewan Pers lantai dasar pada Senin (11/2/2019) mulai pukul 12.00 hingga selesai.

 

Pembicara yang akan tampil: Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara,Ketua Dewan Pers, Stanley Yosep Adi Prasetyo, Kadiv Humas Polri, Injen Pol M. Iqbal, dan Wakil Ketua Perhumas Herry Rachmadi.

 

Moderator adalah Praktisi Media Massa, Teguh Santosa.

 

Diskusi yang digelar Dempol Institute ini menampilkan Film Jurnalis Abal Abal karya Djono W. Oesman. Film berdurasi 7 menit 21 detik itu sudah sejak sebulan terakhir ini beredar di Youtube.

 

Dalam film tersebut digambarkan teknis pemerasan. Pengusaha perekayasa pajak diperas wartawan abal abal (gadungan).

 

Teknis pemerasan yang dilakukan wartawan, digambarkan secara vulgar. Sedangkan, penonton mengetahui bahwa pengusahanya perekayasa pajak, karena dia takut dan memberi hadiah saat digertak si pemeras.

 

Lucunya, wartawan pemeras juga diperas oleh pengamen yang memaksa minta diberi uang. Paksaan melalui lagu intimidatif: "Bisnisku menjagal.... Jagal apa saja..."

 

Lalu, apakah panitia akan membatalkan rencana diskusi publik tersebut?

 

"Tidak mungkin. Semua pihak sudah konfirm. Peserta diskusi adalah para humas berbagai instansi yang biasa menghadapi wartawan," jawab Sumarsono.

 

Namun, dia kini mengetahui bahwa topik diskusi tergolong rawan di kalangan wartawan.

 

"Kami merasa, topik ini memang rawan. Tergolong keras. Sehingga kami diteror," katanya.

 

Bagaimana bentuk terornya? "Hanya melalui WA. Mencaci-maki. Mengancam akan berdemo di lokasi diskusi. Tapi, kami sudah siapkan keamanan," jawabnya.

 

Siapa penerornya? "Macam-macam. Ada yang menyebutkan dari media massa tertentu. Ada yang hanya menyebutkan nama, tanpa identitas lain. Ada juga yang tanpa identitas, kecuali nomor handphone pengirim WA," tuturnya.

 

Tapi, dengan aneka ancaman itu Sumarsono yakin, bahwa jurnalis abal abal jumlahnya banyak. Dan, mereka merasa terusik dengan adanya diskusi tersebut. Apalagi judulnya menggunakan kata "Memberantas".

 

Dia menduga, unsur Polri yang jadi pembicara dalam acara diskusi tersebut, Kadiv Humas Polri, Irjen Pol M. Iqbal, juga memancing emosi jurnalis abal abal.

 

"Bapak Kadiv Humas Polri berbicara mewakili Bapak Kapolri Jenderal Tito Karnavian," kata Sumarsono.

 

Ditampilkan pembicara dari Polri, sebab diharapkan bakal ada tindakan konkret bagi wartawan pemeras.

 

 

Ini link videonya:

 

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/dEwq3PEGefU" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe> (Hadi Siswo)






  • Kena Hoax, Bos BPJS Lapor Ke Bareskrim Kena Hoax, Bos BPJS Lapor Ke Bareskrim Merasa dirugikan, Fachmi Idris melaporkan salah satu pemilik akun media sosial kepada Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri dengan tuduhan menyebarkan dengan cara mengunggah kabar bohong atau hoax.