merdekanews.co
Jumat, 11 Januari 2019 - 19:00 WIB

Tahun Ini Tarif Setrum tak Naik, Bos PLN Optimis Keuangan tak Goyang

Hasan Khusaeri - merdekanews.co
Dirut PLN Sofyan Basir

Jakarta, MERDEKANEWS - Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir menjamin keuangan perusahaan aman meski tarif dasar listrik (TDL) tak naik hingga akhir 2019.Padahal, tarif setru, non subsidi bergantung harga minyak dan inflasi. Mudah-mudahan semuanya benar-benar tak naik.

Sofyan menjelaskan, hal itu karena nilai kurs rupiah yang membaik. Kemudian, inflasi seperti dirilis oleh BPS yang terjaga. Untuk itu, keuangan PLN tak terganggu dengan tidak dinaikannya TDL.“Kita lihat sekarang kurs membaik, inflasi terjaga, harga batubara sudah mau normal, ICP juga, ini kan luar biasa buat kami,” kata Sofyan di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Menurut Sofyan, masa-masa sulit PLN sudah dilewati ketika kurs memburuk, harga batu bara melambung, dan harga minyak Indonesia atau ICP yang tinggi. Nah, dimasa itu saja PLN tak menaikan tarif.“Yang begitu berat saja kami masih aman, secara operasional, sekarang ya pasti lebih aman,” kata dia.

Kedepan, perusahaan akan meneruskan program yang pro kepada rakyat. “Yang kemungkinan besar kita akan buka kembali adalah tambahan daya gratis,” ujar dia.

Diketahui, Tarif Daftar Listrik (TDL) dinyatakan tidak akan naik sampai Maret 2019 oleh Kementerian ESDM. Hal tersebut diambil seiring dengan evaluasi harga setiap triwulan merujuk yang pada Peraturan Menteri ESDM No. 41 Tahun 2017.

Dalam aturan disebutkan apabila terjadi perubahan terhadap asumsi makro ekonomi yakni kurs, Indonesian Crude Price/ICP, dan inflas yang dihitung secara triwulanan, maka akan dilakukan penyesuaian terhadap tarif tenaga listrik (tariff adjustment).

"Pada awal tahun 2019 Kementerian ESDM memutuskan tidak ada kenaikan tarif tenaga listrik bagi pelanggan nonsubsidi untuk periode Januari-Maret 2019. Penetapan ini tertuang dalam surat ke PT PLN (Persero) tanggal 31 Desember 2018," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Kamis (3/1/2019).

Agung menerangkan pada September hingga November 2018, parameter ekonomi makro rata-rata per tiga bulan menunjukan perubahan. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika menjadi Rp14.914,82/US$, nilai Indonesian Crude Price (ICP) menjadi US$71,81/Barrel, dan tingkat inflasi rata-rata 0,12%.

Berdasarkan perubahan parameter tersebut, seharusnya penyesuaian tarif tenaga listrik mengalami kenaikan jika dibandingkan yang berlaku sebelumnya. Namun, Pemerintah mempertahankan agar tarif listrik tidak naik.

"Tarif listrik tidak naik untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung stabilitas ekonomi nasional," ujarnya.

Berikut tarif tenaga listrik Triwulan I/2019:
- Rp997/kWh untuk pelanggan tegangan tinggi, yaitu I-4 Industri besar dengan daya 30 MVA ke atas;
- Rp1.115/kWh untuk pelanggan tegangan menengah, yaitu B-3 Bisnis besar dengan daya di atas 200 kVA dan P2 Kantor Pemerintah dengan daya di atas 200 kVA;
- Rp1.467/kWh untuk pelanggan tegangan rendah, yaitu R-1 Rumah tangga kecil dengan daya 1300 VA, R-1 Rumah tangga kecil dengan daya 2200 VA, R-1 Rumah Tangga menengah dengan daya 3.500-5.500 VA, R-1 Rumah tangga besar dengan daya 6.600 VA ke atas, B-2 Bisnis menengah dengan daya 6.600 VA sd 200 kVA, P-1 Kantor Pemerintah dengan daya 6.600 VA sd 200 kVA, dan Penerangan Jalan Umum;
- Rp1.645/kWh untuk pelanggan Layanan Khusus;
- Rp1.352/kWh untuk rumah tangga daya 900 VA (R-1/900 VA-RTM) (belum diterapkan tariff adjustment).

Adapun tarif tenaga listrik untuk 25 golongan pelanggan bersubsidi lainnya juga tidak mengalami perubahan, besaran tarifnya tetap. Dua puluh lima golongan pelanggan ini tetap diberikan subsidi listrik, termasuk di dalamnya pelanggan yang peruntukan listriknya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bisnis kecil, industri kecil, dan kegiatan sosial. (Hasan Khusaeri)