merdekanews.co
Selasa, 08 Januari 2019 - 18:32 WIB

Dorong Pariwisata Nusantara

19 Pelabuhan Berikan Kemudahan Pelayanan Bagi Kapal Yacht Asing

Hadi Siswo - merdekanews.co

Jakarta, MERDEKANEWS -- Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan cq. Ditjen Perhubungan Laut memberikan kemudahan pelayanan kepelabuhanan bagi kapal wisata (yacht) yang masuk dan keluar dari 19 pelabuhan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 123 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Permenhub No. PM. 171/2015 tentang Tata Cara Pelayanan kapal wisata (Yacht) asing di perairan Indonesia.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Capt. Wisnu Handoko menerangkan bahwa Kapal Wisata (Yacht) Asing adalah alat angkut perairan yang berbendera asing dan digunakan  sendiri oleh wisatawan untuk berwisata dan digunakan hanya untuk kegiatan non niaga.

"Sektor pariwisata merupakan hal yang harus didukung oleh semua instansi tak terkecuali Ditjen Perhubungan Laut. Untuk itu, kami mendorong peningkatan sektor pariwisata dengan memberikan kemudahan pelayanan kepelabuhanan bagi kapal wisata (yacht) asing yang masuk dan keluar melalui 19 pelabuhan di Indonesia.

Ke 19 pelabuhan tersebut adalah Pelabuhan Sabang, Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Teluk Bayur, Pelabuhan Nongsa Point Marina Batam, Pelabuhan Bandar Bintan, Pelabuhan Tarempa, Pelabuhan  Tanjung  Pandan, Pelabuhan Sunda Kelapa/Marina Ancol, Pelabuhan Benoa, Pelabuhan   Tenau, Pelabuhan Kumai, Pelabuhan Tarakan, Pelabuhan  Nunukan, Pelabuhan Bitung, Pelabuhan Ambon, Pelabuhan  Saumlaki, Pelabuhan Tual, Pelabuhan Sorong dan Pelabuhan Biak.

Pelabuhan masuk dan pelabuhan keluar tersebut dapat diubah dengan memperhatikan perkembangan kunjungan  kapal wisata (yacht) asing, kesiapan sarana dan prasarana untuk memberikan pelayanan dan pengembangan wilayah.

"Untuk mendukung kelancaran pelayanan kapal wisata
(yacht) asing di pelabuhan, penyelenggara pelabuhan wajib memberikan pelayanan sesuai dengan prosedur pelayanan  kapal  dan  barang  yang  berlaku  di 19 (sembilan belas)  pelabuhan  masuk  dan  pelabuhan keluar," ujar Capt. Wisnu.

Adapun pemberian kemudahan pelayanan kapal wisata (yacht) asing  dilaksanakan  secara  terpadu  yang  terkait di bidang kepabeanan, kekarantinaan, keimigrasian, dan kepelabuhanan.

"Surat Persetujuan Berlayar kapal wisata (yacht) asing hanya diberikan di pelabuhan masuk dan pelabuhan keluar oleh Syahbandar. Dalam penerbitan Surat Persetujuan Berlayar tersebut,  Syahbandar melakukan pemeriksaan administratif guna memastikan pemenuhan kewajiban di bidang kepabeanan, kekarantinaan, keimigrasian, dan kepelabuhanan," lanjut Capt. Wisnu.

Dengan demikian, penyelenggara pelabuhan harus melakukan pengawasan dan pengendalian  terhadap  kelancaran  pelayanan kapal wisata (yacht) asing di pelabuhan.

Sebagai informasi, Kapal  wisata (yacht)  asing tersebut tidak boleh dikomersialkan dan tidak disewakan kepada pihak lain termasuk melakukan  pergantian  penumpang atau menaikan dan   menurunkan   penumpang   selama   berada  di wilayah perairan Indonesia.

*Kapal Cruise MV. Le Laperouse tiba di Kumai*

Kapal cruise MV. Le Laperouse berbobot 9.900 GT tiba hari ini (8/1) di Kumai Kabupaten Kobar Kalimantan Tengah.

Kepala KSOP Kelas IV Kumai, Capt. Wahyu Prihanto menerangkan bahwa kapal Cruise Le Laperouse berbendera Perancis telah tiba di muara Kumai Kab. Kobar dengan membawa penumpang wisatawan sebanyak 169 wisatawan asing yang akan berwisata di Kumai seperti melihat cagar hutan alam dan Orang Utan di Tanjung Puting serta budaya-budaya lainnya di wilayah Kobar Kalimantan Tengah.

Capt. Wahyu memastikan bahwa ia memberikan layanan kepelabuhanan dimulai dari kapal tersebut masuk ke alur laut hingga nanti kapal tersebut lego jangkar.

"Kita berikan kemudahan layanan kepelabuhanan saat kedatangan kapal tersebut dan berkoordinasi dengan Karantina Pelabuhan, Imigrasi, Bea Cukai, Kepolisian untuk kelancaran kedatangan kapal cruise tersebut," ujar Capt. Wahyu.

Sebagai informasi, kapal cruise MV. Le Laperouse adalah kapal utama kelas Pelayaran Ponant dari kapal pesiar yang dioperasikan oleh Ponant. Adapun kapal tersebut dinamakan dengan nama perwira angkatan laut Prancis, Jean-François de Galaup, comte de Lapérouse. (Hadi Siswo)






  • Indonesia Hadiri Pertemuan Di IMO Bahas Glofouling Partnership Project Indonesia Hadiri Pertemuan Di IMO Bahas Glofouling Partnership Project Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mengirimkan delegasinya untuk menghadiri Inception Workshop dan 1st Meeting of the Global Project Task Force of the GEF-UNDP-IMO GloFouling Partnership Project yang diselenggarakan di Markas Besar International Maritime Organization (IMO) London sejak (18/3) sampai dengan (20/3).


  • SDM Penegak Hukum Di Laut Harus Dibekali Ketrampilan Boarding Officer SDM Penegak Hukum Di Laut Harus Dibekali Ketrampilan Boarding Officer Dalam menjalankan tugas sebagai penegak hukum di laut, personil Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) harus cekatan, profesional serta menguasai aturan-aturan yang berlaku dalam dunia maritim. Selain itu, mereka juga harus dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan khusus yang dapat membantu dalam menjalankan tugas operasi di perairan dan menghadapi ancaman, salah satunya keterampilan tentang Boarding Officer.