merdekanews.co
Selasa, 14 Mei 2024 - 08:25 WIB

Menteri Nadiem Berbagi Mimpi dan Inspirasi dalam Acara Bincang Talenta Berprestasi

Hadi Siswo - merdekanews.co
Acara Bincang Talenta Berprestasi dengan Mendikbudristek dengan tema “Berbagi Inspirasi, Lanjutkan Budaya Merdeka Berprestasi” di Jakarta, Senin (13/5).

Jakarta, MERDEKANEWS -- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI), Pusat Prestasi Nasional menyelenggarakan acara Bincang Talenta Berprestasi dengan Mendikbudristek dengan tema “Berbagi Inspirasi, Lanjutkan Budaya Merdeka Berprestasi” di Jakarta, Senin (13/5).

Acara diawali sesi gelar wicara oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim. Terkait pengembangan potensi dan pengaruh lingkungan sekitar terhadap prestasi yang dicapai, Nadiem menyampaikan bahwa prestasi bukan prestasi individu. Prestasi memerlukan dukungan dari banyak pihak, seperti orang tua, institusi, dan lingkungan sekitar orang lain. “Prestasi juga harus memiliki manajemen, insentif, serta dukungan oleh pemerintah untuk dapat merealisasikan potensi yang ada,” ujar Nadiem.

Nadiem pun mengungkapkan visinya ketika diangkat sebagai menteri dan realisasi program yang diwujudkan. “Mimpi saya adalah bagaimana kita meraih imajinasi pendidikan kita bukan sebagai pabrik manusia tetapi sebagai tempat belajar dan tempat mengembangkan potensi setiap anak,” ucapnya.

Menyanggapi persoalan prestasi yang tidak sejalan dengan prospek karir, Nadiem mengaku tidak perlu khawatir dengan hal tersebut. Melihat banyaknya mahasiswa dengan prodi yang tidak sesuai dengan minat dan bakatnya, Kemendikbudristek menciptakan program Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka (MBKM). Program ini bertujuan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menonton hal-hal di dunia industri atau di daerah yang berbeda dari universitas asalnya.

Menurut Nadiem, dampak terpenting dari prestasi adalah mengubah kepercayaan diri masing-masing. “Buat saya, perasaan dan kemajuan itulah yang lebih penting. Daripada kita bingung dengan prestasi saya tidak nyambung dengan karir, tidak perlu stress dan khawatir, yang penting kita sudah belajar, berani berkompetisi, dan memiliki kepercayaan diri bahwa kita bisa meraih sesuatu yang luar biasa,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Nadiem juga membahas mengenai tantangan terbesar selama bertahan untuk program Merdeka Belajar bagi daerah terpencil. Ia harus memastikan dukungan dari sisi anggaran sesuai dengan tingkat sosial dan ekonomi daerah tersebut. Misalnya, perekonomian rendah di Maluku diberikan anggaran lebih banyak daripada siswa di Jakarta. Berkaitan dengan literasi rendah yang dapat menghambat karir siswa di sana, menjadikan program literasi menjadi fokus utama Kemendikbudristek dengan mengirimkan buku-buku kepada siswa SD dan PAUD untuk guru-guru bacakan.

Di akhir acara, Nadiem juga membagikan aktivitas menarik selama ia menjabat. ”Saya bertemu dengan guru dari daerah di luar Jawa yang pertama kali menyadari tugas mereka sebagai guru, dan melihat adanya perubahan pola pikir pada guru-guru, untuk membangun pelajaran dan menjadikan anak murid mencintai pelajaran.”

(Hadi Siswo)