merdekanews.co
Rabu, 30 November 2022 - 07:30 WIB

Buku Berkualitas Dukung Gerakan Literasi Masyarakat Bima

Hadi Siswo - merdekanews.co
Ahmad dan kawan-kawannya menginisiasi lahirnya Uma Lengge Mengajar, yakni Gerakan Mengajar di desanya yang memiliki dua fokus utama, yakni kegiatan internal khusus yang diperuntukkan untuk para relawan dan fun literacy. Kegiatan internal ini berupa diskusi ilmiah, bedah buku, serta pelatihan penerapan metode dan strategi pembelajaran literasi yang tepat bagi masyarakat, sementara fun literacy merupakan kegiatan luar ruang bagi anak-anak.

Jakarta, MERDEKANEWS -- Ahmad, seorang pegiat pendidikan di Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen dan memilih jalan sunyi.

Hatinya terenyuh ketika melihat anak-anak di desanya lebih piawai memainkan gawai dibanding membaca buku.

Ahmad bertekad membangun anak-anak itu dari tidur panjang. Rencana ia susun dan lahirlah Uma Lengge Mengajar.

Ahmad mengaku sejak kecil ia dan kawan-kawannya sudah menyukai buku, meski kala itu akses buku masih sangat minim. Ahmad dan anak-anak di desanya pun biasa membaca Al Qur'an selepas magrib di langgar. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa kegiatan membaca begitu lekat dalam keseharian mereka.

Kegelisahan Ahmad muncul setelah bertahun-tahun merantau dan kembali ke kampung halamannya. Ia menyaksikan sendiri perubahan kebiasaan yang terjadi pada anak-anak di desanya.

Selain lebih akrab dengan gawai, aktivitas belajar mengaji setelah magrib pun mulai berkurang. Bahkan, sebagian anak terjebak dalam kenakalan remaja.

Padahal, menurut Ahmad, jumlah sarjana dan mahasiswa di Kecamatan Wawo tak bisa dibilang sedikit. Namun, kehadiran kaum intelektual kampus rupanya belum berbanding lurus dengan kualitas sumber daya dan moralitas masyarakat.

Sebagai dosen lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dan guru pondok pesantren, ia prihatin dengan keadaan tersebut.

Pria berusia tiga puluh tahun tersebut akhirnya menelaah masalah sosial yang melanda kampung halamannya. Hasil penelusuran Ahmad menunjukkan bahwa tingkat literasi dasar yang minim di kalangan anak usia Sekolah Dasar (SD) ternyata menjadi salah satu faktor penyebab.

Ahmad tidak ingin anak-anak terus terpuruk. Ia yakin anak adalah aset bangsa.

Maka, menurutnya perlu ada suatu gerakan yang lahir dari kesadaran kelompok intelektual, sebuah gerakan literasi yang membangkitkan kecintaan anak-anak pada dunia baca. Itulah mengapa pada akhirnya ia menginisiasi lahirnya Uma Lengge Mengajar.

Nama Uma Lengge terinspirasi dari bagunan tradisional suku Mbojo yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan lumbung. Suatu hal yang fundamental dalam masyarakat agraris.

Nama itu ia pilih karena keyakinannya bahwa pendidikan merupakan unsur fundamental dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di Kecamatan Wawo tempat ia berasal.

Awalnya Uma Lengge Mengajar menuai cibiran dari Sebagian masyarakat. Selain itu, keluarganya pun tak segan-segan dengan upaya Ahmad.

Namun, kondisi itu tidak mematahkan semangat Ahmad dan kawan-kawannya untuk membangun pendidikan masyarakat Wawo.

Ahmad dan rekan relawan di Uma Lengge Mengajar memiliki dua fokus utama, yakni kegiatan internal khusus yang dikhususkan untuk para relawan dan fun literasi. Kegiatan internal ini berupa diskusi ilmiah, bedah buku, serta pelatihan penerapan metode dan strategi pembelajaran literasi yang tepat bagi masyarakat, sementara fun literasi merupakan kegiatan di luar ruang bagi anak-anak.

Mereka dapat belajar sambil bermain gim edukatif, ice breaking, membaca buku, dan kegiatan lainnya yang diprogramkan di setiap sekolah maupun desa.

Selain itu, Ahmad dan para rekan relawan lainnya juga mengembangkan kegiatan literasi menyenangkan dalam bentuk perpustakaan keliling. Tujuannya agar gerakan literasi dapat menahan lebih banyak anak di setiap rukun tetangga dan dusun.

Mereka membawakan buku bacaan dan mendongengkan kisah untuk menghidupkan mimpi dan cita-cita anak-anak di Kecamatan Wawo.

Semangat Ahmad tentunya perlu terus didukung agar kemampuan literasi anak-anak bangsa terus meningkat. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan berbagai upaya untuk mendukung hal tersebut, salah satunya melalui platform digital Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI).

SIBI menjawab kebutuhan masyarakat akan buku yang interaktif dan menarik. Publik dapat menemukan buku teks dan buku nonteks digital dalam bentuk Portable Document Format (PDF), audio, dan interaktif.

Buku-buku tersebut telah melalui proses penilaian dan kurasi dari pemerintah, sehingga layak digunakan. Selain itu, Kemendikbudristek juga mengutamakan kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam membangun pilar literasi strategi di Indonesia sebagai upaya membangun Profil Pelajar Pancasila.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dalam sebuah lokakarya bertajuk “Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Buku Cerita Anak dari Sabang sampai Merauke: Kebijakan, Kegiatan dan Inovasi Daerah” pada Juni 2022 menyampaikan bahwa buku anak harus mengutamakan unsur yang menghibur (entertainment value), sehingga menyenangkan bagi anak.

“Maka, membagikan buku saja tidak cukup, tetapi butuh lebih banyak upaya lainnya, seperti pelibatan dengan guru di sekolah, perpustakaan, penyedia buku bacaannya, dan banyak lagi,” ujar Nadiem.

Selaras dengan stand Nadiem, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, mengatakan bahwa campuran buku berkualitas adalah buku bacaan yang menarik.

“Buku bacaan yang membuat anak-anak terdorong mengambil buku tersebut dan tenggelam dalam dunia membayangkan mereka,” tutur Anindito.

Menurutnya, hal tersebut merupakan fondasi yang sangat penting bagi tercapainya profil pelajar Pancasila dan pembelajar sepanjang hayat yang bisa berpikir merdeka.

Siswa, guru, pelaku perbukuan, dan publik dapat mengakses berbagai produk-produk, regulasi, dan kebijakan terkait perbukuan melalui platform digital SIBI pada tautan buku.kemdikbud.go.id.

(Hadi Siswo)





  • Perkuat Pendidikan Karakter di Lingkungan Pendidikan, Kemendikbudristek Kembali Gelar PUSAKA 2022 Perkuat Pendidikan Karakter di Lingkungan Pendidikan, Kemendikbudristek Kembali Gelar PUSAKA 2022 PUSAKA tahun ini mengangkat tema “Karakter Kuat untuk Indonesia Semakin Hebat”. Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Suharti, menyatakan dalam sambutannya bahwa penguatan karakter merupakan ruh dari pendidikan Indonesia yang tidak terbatas pada kompetensi intelektual. Karakter yang kuat menjadi bagian dari keterampilan jitu abad 21 yang perlu dimiliki pelajar Indonesia untuk sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas.