merdekanews.co
Selasa, 26 Januari 2021 - 14:09 WIB

Presiden Ajak Negara negara Di Dunia Atasi Iklim Dan Covid-19

MUH - merdekanews.co

MERDEKANEWS -Presiden Jokowi mengajak negara-negara di dunia untuk bekerja keras bersama-sama dalam penanganan perubahan iklim dan atasi pandemi Covid-19. 

Hal itu disampaikan Jokowi dalam forum  Coalition Ambition Summit Climate Adaptation Summit (CAS) 2021 di Belanda, Senin (25/1) malam.

Dalam konferensi global ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyampaikan sebagai negara agraris peningkatan suhu global akibat perubahan iklim tentu akan mempengaruhi pada produktivitas pertanian yang akan berdampak pada kondisi ekonomi dan kehidupan sosial. 

Oleh karena itu, lanjut Siti, ada tiga hal yang dilakukan untuk mencapai ketahanan dalam atasi perubahan iklim. Pertama ketahanan ekonomi. Kedua, ketahanan sosial dan kebutuhan dasar hidup, serta keempat, ketahanan ekosistem dan bentang alam.

Siti menjelaskan, dialog tahunan tentang aksi adaptasi yang diselenggarakan oleh the Global Center on Adaptation (GCA) ini bertujuan untuk membentuk kerja sama yang berkelanjutan oleh para pemimpin global untuk mengakselarasikan aksi adaptasi, baik dalam hal kecepatan maupun dalam skala yang lebih besar. 

Dialog ini juga menjadi platform bagi negara-negara untuk menampilkan keberhasilan implementasi dan menyampaikan inisiatif baru, kerja sama, serta tindakan-tindakan lain yang dapat berkontribusi atau berpotensi untuk akselarasi aksi adaptasi perubahan iklim.

Sedangkan dari sisi regulasi, Siti mengatakan, Indonesia telah memasukkan adaptasi dalam Undang Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. 

Roadmap NDC adaptasi sedang disusun untuk memberikan arahan terhadap pencapaian NDC adaptasi pada tahun 2030. Panduan dan perangkat telah disiapkan dalam rangka implementasi adaptasi perubahan iklim di tingkat tapak.

Kemudian, Siti menilai, implementasi adaptasi perubahan iklim dalam bentuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan Food Estate untuk meningkatkan ketahanan nasional terhadap pandemi Covid-19.

“Ini bertujuan untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi risiko dampak perubahan iklim melalui upaya Padat Karya Penanaman Mangrove oleh masyarakat dan peningkatan ketahanan pangan melalui Food Estate,” terang Siti.

Terkait pendanaan untuk mengatasi perubahan iklim, Siti mempercayakan kepada Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) untuk mengelola dana yang berasal dari dalam negeri, internasional hingga sektor swasta untuk pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian perubahan iklim.

“Diharapkan terbentuknya BPDLH dapat mendukung pencapaian NDC, baik dari segi mitigasi maupun adaptasi,” ujar Siti.

Terakhir, Siti menegaskan, sebagai anggota G20 Indonesia telah berkontribusi membantu negara berkembang lainnya melalui South-South Cooperation.  

Adapun beberapa kerja sama internasional tersebut antara lain adalah berbagi pengalaman dalam pengelolaan lahan gambut dengan Kongo dan Peru yang dikelola oleh International Tropical Peatland Center (ITPC) di Bogor yang didukung oleh United Nations Environment Programme (UNEP),  Food and Agriculture Organization (FAO) dan Center for International Forestry Research (CIFOR) (CIFOR).  Kerja sama dengan berbagai pihak juga telah dilakukan dengan mewujudkan Regional Capacity Center for Clean Seas (RC3S) di Bali, untuk peningkatan kapasitas negara-negara berkembang dalam menangani sampah laut. (MUH)