merdekanews.co
Selasa, 01 September 2020 - 12:56 WIB

Gereja Ramah Anak Dukung IDOLA Tahun 2030

Hadi Siswo - merdekanews.co

Jakarta, MERDEKANEWS – Penerapan disiplin positif dan upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dapat dilakukan Gereja Ramah Anak (GRA).

Kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat itu sendiri dibutuhkan dalam mewujudkan Indonesia Layak Anak (IDOLA) tahun 2030.

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Lenny N Rosalin menegaskan salah satu lembaga yang dapat mendukung upaya pencegahan dan penghapusan kekerasan terhadap anak adalah gereja yang diwujudkan melalui Gereja Ramah Anak. “Gereja juga memiliki peran besar mendukung pemerintah melakukan pencegahan kekerasan terhadap anak yang rentan menjadi korban. Selain itu, Gereja Ramah Anak juga dapat dikembangkan menjadi tempat anak-anak berkumpul, melakukan kegiatan positif, inovatif, kreatif, dan rekreatif yang aman dan nyaman dengan dukungan orangtua dan lingkungannya,” tutur Lenny dalam Webinar bertema "Penerapan Disiplin Positif dalam Upaya Perlindungan Anak di Gereja Ramah Anak” yang diselenggarakan Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) secara virtual.

Gereja Ramah Anak (GRA) telah diintegrasikan menjadi bagian dari salah satu indikator ke-20 dari 24 indikator Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), dan menjadi salah satu bentuk dari rumah ibadah yang dapat dikembangkan secara optimal untuk melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, eksploitasi dan perlakuan salah lainnya. Konsep Gereja Ramah Anak  bukan dengan membangun Gereja baru, tetapi bagaimana memanfaatkan gereja yang sudah ada untuk pemenuhan hak anak dalam memanfaatkan waktu luang mereka dalam bentuk kegiatan yang Positif, Inovatif, dan Kreatif (PIK) yang terintegrasi dengan kegiatan gereja. Selain itu, GRA juga dapat menjadi wadah edukasi dan advokasi terkait dengan penerapan disiplin positif pada anak.

“Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan dalam GRA misalnya, diskusi agama, bermain sambil menunggu waktu misa, kegiatan pengembangan keterampilan anak (mewarnai, menggambar, puisi yang bernafaskan nilai agama), seni budaya, dan lainnya. Kegiatan yang dilakukan dalam GRA harus tetap mengedepankan prinsip utama yakni: non-diskriminasi; mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak; hak anak untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai usianya; mengajak anak untuk berpartisipasi aktif; dan pengelolaan yang baik. Besar harapan kami agar nantinya seluruh Gereja yang ada di Indonesia dapat menjadi GRA dan akan mengoptimalkan fungsi gereja sebagai tempat pembelajaran melalui berbagai kegiatan dalam upaya pemenuhan hak anak dan perlundungan khusus anak, termasuk juga menerapkan disiplin positif pada anak melalui orangtua dan pengurus gereja. Selain itu, diharapkan GRA juga dapat meningkatkan pengelolaan gereja dengan berorientasi pada kepentingan terbaik anak dan partisipasi anak sesuai tumbuh kembang anak tanpa kekerasan dan diskriminasi,” ujar Lenny.

Lebih lanjut Lenny menuturkan terkait disiplin positif terhadap anak dapat didorong oleh Gereja  melalui edukasi dan advokasi kepada pengurus, orangtua dan anak sebagai salah satu bentuk penerapan   perlindungan anak di Gereja. Inti Disiplin Positif adalah proses pendisiplinan terhadap anak yang dilakukan tanpa merendahkan martabat dan tanpa kekerasan. Untuk itu orangtua dan pengurus Gereja harus dilatih untuk mampu menerapkan kepada anak mereka di rumah dan anak-anak yg berada di Gereja. Proses pendisiplinan adalah proses untuk melatih  anak dapat bertanggungjawab sehingga anak mampu mengendalikan dirinya. Disiplin Positif harus  diawali dengan komunikasi persuasif, saling mempercayai dan  membentuk kesepakatan antara orangtua dan anak dengan tetap mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Menerapkan konsep Disiplin Positif pada anak akan menanamkan proses pemikiran dan perilaku positif sepanjang hidup anak. Ini dilakukan agar anak dapat memahami tingkah lakunya sendiri, berinisiatif dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih, serta menghormati dirinya sendiri dan juga orang lain.

Sekretaris Umum Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacky Manuputty menuturkan penerapan konsep Gereja Ramah Anak merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian utama di PGI. “Mewujudkan GRA menjadi salah satu strategi 5 tahun ke depan kami. Selain itu, kami juga ingin agar penerapan konsep disiplin positif pada anak dapat dilakukan melalui GRA. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kami, tidak mudah untuk dapat mewujudkan kedua hal tersebut. Akan tetapi kami tidak akan menyerah dan akan terus berupaya untuk mengajak seluruh gereja yang ada di bawah naungan PGI agar bisa menerapkan konsep GRA di daerah masing-masing. Alasan utama mengapa GRA menjadi isu utama kami adalah kami ingin agar Gereja dapat menjadi bagian dalam menghapuskan kekerasan terhadap anak di Indonesia dan dapat melakukan pemenuhan hak anak dengan baik. Berbagai upaya telah dan terus kami lakukan diantaranya dengan melakukan advokasi kebijakan perlindungan anak kepada seluruh anggota PGI, melakukan pelatihan kepada fasilitator hak anak, melakukan sosialisasi melalui seminar dan lokakarya di GRA, dan pengadaan modul bermuatan GRA,” tutur Pdt. Jacky.

Sementara itu, Senior Associate WTA dan YSN, Jean Hendry Souisa menerangkan konsep disiplin positif dewasa ini menjadi sebuah praktik pendidikan yang dirasakan memberi efek positif bagi anak-anak. Dengan menerapkan disiplin positif di rumah maupun tempat lain diharapkan anak-anak mampu mengembangkan perilaku positif yang bertahan untuk jangka panjang. “Anak-anak juga dapat mengembangkan kemampuan untuk mengelola diri dan tahan terhadap kesulitan dan mengembangkan motivasi internal dengan pembiasaan sejak dini. Namun, yang tak kalah penting sebelum menerapkan konsep disiplin positif harus terbangun dulu pola relasi dan komunikasi positif antara orangtua dan anak. Komunikasi yang positif ini ditandai dengan saling memanusiakan hubungan, kepercayaan, dan kepedulian antara kedua pihak sebagai salah satu fondasi penerapan disiplin positif pada anak. Setelah terjalin komunikasi positif barulah tahapan untuk menerapkan disiplin positif pada anak dengan mendorong anak memahami sebab dan akibat dari perilaku mereka, kemudian mendorong anak memikirkan apa konsekuensi dari perilaku mereka, dan barulah ajak anak untuk berdialog menemukenali pilihan-pilihan solusi untuk mengatasi sebab dan mengelola akibat agar tidak memperburuk keadaan. Kunci utamanya adalah membangun dialog positif antara orangtua dan anak,” terang Jean Hendry. (Hadi Siswo)






  • Menteri Bintang: Cegah Perkawinan Anak Menteri Bintang: Cegah Perkawinan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) selama ini sangat intensif melakukan kampanye Gerakan Bersama Pencegahan Perkawinan Anak hingga ke tingkat desa.